Andai Aku Seorang Golput

Fenomena golput semakin fantastis. Terlepas itu adalah hak, tetapi anehnya hal ini kurang (tidak) dipandang sebagai menurunnya citra partai dihadapan konstituennya. Pemerintah merasa khawatir tetapi lebih memandang golput sebagai hal yang memperburuk progress reportnya, dan bukan sebagai sebuah kritik atau bahkan perlawanan terhadap sistem demokrasi yang selama ini dijalankan.

Mungkin saya semakin percaya diri menjadi golput karena semakin hari semakin banyak pengikut dan pendukungnya. Di Jawa Tengah saja golput mencapai lebih dari tiga puluh persen dalam pilgub kemarin. Tren golput semakin hari semakin tinggi. Hingga saat ini golput juga terhindar dari menjadi korban dimanfaatkan orang-orang oportunir politik. Sehingga pendukung golput semakin nyaman menjadi golput.

Partai-partai tidak menganggap golongan saya sebagai ancaman. Mereka tidak resah terhadap kenyataan bahwa golongan saya sesungguhnya telah beberapa kali memenangi pemilu dan pilkada. Padahal golongan saya tidak pernah bikin bendera, pasang iklan di tv, bikin stiker, apalagi mendaftarkan caleg di KPU. Bahkan lambang sebagai simbol dan pengingatpun golongan saya tidak punya.

Partai-partai sibuk sekali dengan konflik rumah tangganya. Banyak kader partai berorientasi kekuasaan dan kekayaan sehingga apapun akan ditempuh demi mencapai ambisinya, baik sebagai pimpinan partai ataupun anggota dewan. Beberapa diantara mereka bahkan loncat pagar ke partai lain. Rumput tetangga terlihat lebih hijau karena warna partainya memang tidak hijau. Partai besar menjadi incaran untuk dimasuki dan dimanfaatkan untuk meraih kekuasaan dan menumpuk kekayaan. Mau koalisi ada rasa takut ditinggalkan pemilihnya. Saya semakin kencang larinya.

Masyarakat bingung harus pilih partai mana karena beberapa partai yang memiliki plaform sama, isu perjuangan yang sama, corak dan ciri khas yang sama, tetapi memiliki nama, gambar, nomor urut beda-beda. Harusnya mereka bisa bersatu kekuatan. Akhirnya banyak masyarakat yang bahkan hingga hari H pencoblosan belum punya pilihan pasti. Akhirnya mereka sembarangan nyoblos, bahkan tidak nyoblos sama sekali. Masuklah mereka ke golongan putih, golongan saya.

Disisi lain masyarakat sekarang tidak mau dibodohi. Mereka memakai cara mereka agar tidak begitu saja dimanfaatkan seperti dahulu. Dengan minta uang misalnya. Event politik yang dahulu sakral sekarang tak lebih sebagai pertujukan tong setan yang berputar-putar seolah-olah hiruk pikuk tapi realitasnya tidak pergi kemana-mana. Mereka sebagai masyarakat dan sebagai konstituen sebuah partai masih tetap miskin, tidak terprioritaskan, tidak terperhatikan, kembali ditinggalkan. Ditinggal tidur pun jumlah suara di gologan saya meningkat terus.

Atau bahkan masyarakat merasa muak ketika wakil yang mereka pilih justru berpesta di gedung perwakilan rakyat atau disekitarnya. Mereka berbuat asusila, korupsi, mangkir kerja dan seterusnya. Tidak begitu resah ketika harga elpiji 12 kg terus naik sementara pemerintah mengekspor ke luar negeri dengan harga kurang dari 25 US Dolar per ton. Tidak terusik ketika indonesia adalah negeri agraris tetapi disumbang beras dari negara lain yang notabene adalah negara industri. Masyarakat termasuk generasi muda terdidik semakin tidak percaya kredibilitas partai. Banyaklah kemudian kader muda dan berpotensi bergabung dengan golongan saya.

Di pedesaan masyarakat juga tidak menganggap penting-penting amat partai politik. Beda sekali gemuruh dan gaung partai politik sekarang dengan era 50-an hingga 70-an dimana partai masih dianggap sarana untuk menyalurkan aspirasi politik dan memperjuangkan kepentingan. Maka saya tidak perlu mencitra golput kepada mereka untuk memperbanyak barisan di golongan saya.

Suatu saat nanti saya dan golongan putih lainnya akan paksa negara untuk merubah konstitusi dimana keberadaan golongan saya harus diperhitungkan. Pilih melaksanakan amanat UUD 45 untuk mewujudkan masyarakat indonesia yang berdaulat adil dan makmur atau ada dan tidaknya parpol serta negara ini tidak lagi dianggap penting oleh masyarakat, rakyat dan konstituen partai.

Benarkah para golput seperti itu? Entahlah. Saya sendiri masih jadi pengurus partai. Saya masih punya mimpi bahwa partai saya bersama partai lain mampu menjadikan rakyat indonesia ini memiliki kesadaran dan kedaulatan politik. Bahwa partai bisa memposisikan diri sebagai media berjuang dan melakukan kerja-kerja dalam rangka mewujudkan kedaulatan dan kekuatan bangsa. Bahwa partai akan menjadi besar dan kuat sebagaimana partai-partai besar di beberapa negara yang mampu mengantarkan negaranya menjadi negara berdaulat, kuat dan rakyatnya sejahtera. Partai berisi orang-orang yang memiliki ideologi, militansi dan semangat untuk bekerja keras, bukan berisi orang-orang yang mengejar kekuasaan semata.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: