Repotnya pemilu

Pemilu legislatif kali ini tak urung membuat puing dan heboh rakyat Indonesia. KPU belum beres dengan pekerjaannya. Pimpinan parpol pusing dengan keputusan MK soal suara terbanyak. Caleg pusing dengan urusan kampanye dan sosialisasi. Musuh tidak hanya datang dari caleg partai lain tapi dari internal partai juga ada. Rakyat juga pusing ketika tiba-tiba banyak orang narsis, menempel gambar dimana-mana.

Situasi masyarakat semakin memburuk ketika para caleg mulai ‘menjual diri’ agar dipilih dan bisa menduduki kursi legislatif. Caleg banyak yang lupa diri sehingga apapun dilakukan demi meraih kursi. Rakyat akhirnya memandang pemilu sebagai peluang untuk mendapatkan kuntungan sebanyak-banyaknya. Sudah lama rakyat di bodohi dan diberi janji-janji. Sehingga daripada dibohongi melulu sesekali gantian rakyat yang bohongi caleg. Akhirnya caleg dan rakyat sama-sama mabuk. Ada kawan caleg yang mengaku jengkel karena dana pemilu dari partainya banyak di sunat oleh pejabat partai. Caleg hanya menerima barang dan atribut kampanye tanpa ada uang operasionalnya. Akhirnya sibuk ngobyek sana sini agar atribut tersebut bisa di distribusikan.

Ada kawan caleg lain yang harus mengadaikan kendaraannya bahkan sertifikatnya karena partainya miskin sehingga malah minta uang pada caleg untuk membayar saksi. Ada caleg yang tahu-tahu duitnya habis karena telah dibagi waktu sosialisasi padahal hari H masih jauh. Ia kemudian dihinggapi rasa khawatir jangan-jangan masanya pergi karena ada yang ngasih uanglebih banyak. Tapi di lain pihak ada caleg yang pusing karena sampai saat ini belum juga dapat uang untuk kampanye. Lagi-lagi uang yang ada pas-pasan. caleg lain sudah lari sampai jakarta, sementara dia masih disitu-situ saja.

Rakyat disuguhi gambar-gambar caleg. ada yang tua, muda, laki-laki, perempuan, cantik, ganteng, dendy, culun, kemayu, norak, menor, dan sebagainya. rakyat tak tinggal diam. ada yang di sobek, dilubangi dan di kasih rokok, di turunkan, ditutupi dengan atribut lain dan sebagainya. Ada banner yang diambil untuk penutup kandang ayamnya yang sobek karena angin musim hujan. Sebagian rakyat menghadapi pemilu ini justru digunakan untuk mengembangkan bakatnya. Mereka kemudian taruhan kepada seorang caleg dari parpol baru, kira-kira dapat suara berapa? Yang menang taruhan akan mendapat kambing dua ekor. Enam orang itupun mengumpulkan uang untuk beli kambing dan tebakannya yang paling mendekati kenyataan yang kaan membawa pulang kambing. Uniknya uang untuk beli kambing itu adalah uang amplop dari caleg itu sendiri.

Di kampung sebelah ada ketua RT yang juga ikut pusing. Ia terlanjur diberi kursi oleh seorang caleg seratus biji dan ditarget dapat 200 suara. Belakangan ia tahu bahwa warga telah membangun kontrak politik dengan caleg kampung sebelah bahwa akan memenangkan dia dengan harga Rp 100.000 per suara. Ketua RT itu bingung mesti membela pemberi kursi atau pemberi uang.

piye jall…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: