pemilu: pengine lan nyatane

Ada banyak keinginan yang digantungkan dari pelaksanaan pemilu 9 april kemarin, mungkin dari pemilu-pemilu sebelumnya. Rakyat berharap pemilu bisa bikin kehidupan lebih baik. Caleg ingin menduduki kursi di parlemen. Partai ingin dapat suara mayoritas untuk mengusung capres dan atau cawapres mereka. Pemerintah ingin citranya sebagai pemerintahan yang demokratis dan handal terjaga. Pemilu terlaksana, tapi apakah kenyataannya seperti yang diharapkan?
Apakah kehidupan rakyat bisa lebih baik setelah pemilu? boro-boro lebih baik, substansi pemilu sebagai upaya memilih perwakilan di parlemen tidak juga tercapai. Anggota dewan oleh masyarakat tidak di pandang sebagai wakil mereka untuk memperjuangkan kepentingan rakyat agar kehidupan bisa lebih baik, tapi dipandang sebagai orang yang mencari pekerjaan baru, profesi baru. Ini mungkin merujuk pada kondisi anggota dewan yang tampil kaya, mobilnya bagus, rumahnya besar dan banyak. Dari pandangan ini banyak dari masyarakat berkesimpulan bahwa mereka hanya ditipu dan jadi pijakan bagi orang lain untuk meniti karir, mencari pekerjaan baru sebagai anggota DPRD. rakyat kemudian berpikir memberikan suara tidak gratis, harus ada imbalannya. lebih baik golput daripada memberikan suara tapi tidak dapat uang.
Di sebelah sana ada orang lain yang berpandangan menjadi anggota legislatif adalah enak. Gajinya tinggi, kerjanya rapat, bisa nyambi cari proyek APBD yang nilainya milyaran, dan segenap fasilitas wah terpenuhi. Citra dan penghormatan pun di depan mata. Akhirnya ramai-ramailah orang menjadi caleg. Mereka kurang memikirkan bahwa anggota legilatif merupakan wakil rakyat yang memperjuangkan kepentingan rakyat melalui fungsi legislatif yaitu budgeting, kontrolling dan fungsi legislasi. Ini bukan pekerjaan mudah yang bisa dipahami dalam hitungan bulan. Tapi siapa peduli, jadi anggota legislatif syaratnya bukan itu. Syaratnya punya suara banyak, diusung partai pemenang pemilu, cukup.
Setelah pemilu rakyat kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tak banyak yang kemudian mengontrol kinerja mereka di gedung dewan. Malah lebih sering dilupakan saja. Paling sesekali lihat hasil perolehan partai di tv yang amat lambat. Tapi banyak yang sudah lupa kemarin memilih seseorang untuk menjadi wakil mereka di parlemen. Toh yang penting udah di kasih uang jajan. ada yang 25 ribu yang untung nyampe 200 ribu.
Yang parah adalah para caleg. Banyak diantara mereka yang siap menang tapi tidak siap kalah. Mereka keluarkan uang banyak-banyak untuk bikin atribut, untuk kampanye, untuk menyumbang, untuk beri sangu para pemilih di hari H. Ketika penghitungan suara perolehan mereka tidak seperti yang diharapkan, perilakunya jadi lucu-lucu. Ada yang menarik kembali sumbangannya, ada yang memarahi tim suksesnya, ada yang pergi ke ‘orang pintar’ untuk berobat atas stres nya, dan sebagainya.
Menyumbang? Logikanya dari mana? Dalam logika dan akal sehat, orang menyumbang biasanya ala kadarnya, sesuai dengan ketersediaan uang ‘receh’ di sakunya. Kalo menyumbang alat keperluan RT ya biasanya ambil beberapa saja. RT butuh kursi biasanya nyumbangnya cukup 100 saja. Itupun kalau RT mengajukan proposal permintaan sumbangan. Bikin gorong-gorong nyumbang semen paling juga 10 sak saja. Itupun sudah cukup banyak. Atau kalau lagi ada rejeki ya pasir 1 rit saja.
Tapi ini lain. Caleg nyumbang kas RT saja 1 juta. Padahal warganya iuran perbulan cuman 1000 rupiah. Butuh 1000 bulan bagi setiap warga untuk bisa menandingi sumbangan caleg. Nyumbang peralatan RT tidak kursi 100 biji, tapi kursi 500 biji plus 4 set tratag, sound syatemnya. Nyumbang mushola bukan semen 10 sak, tapi pasir 4 rit, bata 2000 plus semen 20 sak. Luar biasa.
Ketika hari pencontrengan usai dan perolehan suara akhirnya banyak caleg stress. Mereka pikir rakyat bisa dibeli dengan mudah semudah mereka beli semen dan pasir. Dia pikir kemenangan bisa dibeli sebagaimana kemenangan-kemenangan lain bisa dibeli. Logiskah kalau itu sebagai sumbangan?
Keinginan dari pemilu agar kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia bisa menjadi lebih baik dan rakyat lebih sejahtera. tapi malah muncul bekas caleg pada stress mikir hutangnya banyak, rakyat oportunis sehingga suarapun harus dibeli, pemerintahan dan KPU apologis dengan tetap membela diri meski pelaksanaan pemilu kacau. yah, pemilu masih jauh keinginan dari kenyataan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: