Indonesia tanah air beta

Memasuki hari-hari setelah pemilu, keadaan Indonesia normal kembali, seakan tidak pernah terjadi apa-apa, dan kelihatannya memang tidak pernah terjadi apa-apa selain ceremonial para penggede negara dengan segenap janji dan ambisinya. berbagai persoalan bangsa yang kemarin-kemarin di bahas dalam-dalam oleh banyak kalangan seakan sudah habis masa aktifnya, diam tak bersuara. mereka yang kemarin berapi-api bicara keadilan, kesejahteraan dan kemelaratan kini beralih ke rutinitas mereka semula. pembicaraan yang kemarin tinggi-tinggi kini biasa-biasa saja.

Pilpres, moment bersejarah di Indonesia terjadi dan berjalan seperti peristiwa-peristiwa lain di tv atau surat kabar. Setelah terjadi akan segera dilupakan orang, termasuk orang indonesia sendiri. Ini seperti pemilu legislatif april lalu, menghangat, heboh, berlangsung kemudian surut dan terlupakan. Apakah takdir pemilu di Indonesia seperti itu atau memang takdir orang Indonesia yang seperti itu saya kurang paham. Yang jelas seheboh apapun suatu peristiwa, tetapi akan segera terlupa oleh kejadian dan peristiwa baru.

Saya kadang sulit memahami alur berpikir saya sendiri terhadap pemilu, juga alur berpikir bangsa ini. merasa geram dan berapi-api ketika kampanye tetapi setelah melewati masa tenang, segenap pikiran masa pemilu seakan lenyap, dan tidak memberi pengaruh signifikan atas pilihan saya. ada kemungkinan banyak warga indonesia yang mengalami seperti itu. mata saya bisa melihat calon yang bagus, berpikiran cerdas, memiliki visi yang menyentuh persoalan rakyat, dan lain sebagainya. tapi hati ini merasa perbedaan para calon itu terletak pada paparan saja. tidak mampu membangun trust. susah mengukurnya.

Menyedihkan lagi adalah kampanye itu membutuhkan beaya tidak sedikit, puluhan dan bahkan mungkin miliaran rupiah. Uang siapa dan darimana tidak pernah ada yang mempersoalkan. Sisa atau kurang tidak ada yang menggubris. Audit dana kampanye, tidak jelas laporan dan tindak lanjutnya. Sama menyedihkannya dengan masyarakat tidak begitu lama dan dalam ketika menentukan pilihannya. Tidak selalu berdasarkan track record, prestasi, paparan ketika kampanye, atau lainnya. Tetapi lebih sebagai spontanitas dan dalam berbagai tayangan tv justru terkesan main-main karena mereka menempeli kertas suara dengn gambar atau stiker, atau mencoret-coret kertas suara.

Bangsa ini tidak menyadari bahwa apapun pilihannya dan bagaimanapun dasar pertimbangannya adalah menjadi rangkaian peristiwa yang membangun sejarah bangsa. Bahkan ketika mereka tidak memilih pun tetap menjadi bagian dari perjalanan sejarah. Saya tidak tahu apakah bangsa ini menganggap pemilu itu penting atau tidak.

Hal seperti itulah mungkin yang menjadikan beberapa partai yang kemarin mencitrakan sebagai partai bersih akhirnya goyah juga. Saya berpraduga -semoga salah- bahwa masyarakat tidak memandang penting pemilu sehingga mereka mendasarkan pilihannya pada kepentingan sesaat, seperti uang misalnya. Ini tentu tidak bisa di lepaskan dari peran pemilu-pemilu sebelumnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Tapi… entahlah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: