Selamat jalan Gus Dur

Gus Dur bisa mencitrakan bahwa esensi agama Islam tidak terbatas pada fiqih dan syariah, akan tetapi perlu jug adigali hingga pada keyakinan, nilai-nilai dan keberpihakan pada kaum lemah. Di sisi lain pesan Islam sebagai rahmatan lil alamin senantiasa di dakwahkan dan akhirnya wajah islam Indonesia adalah agama yang damai, toleran, menghormati pluralisme dan mendorong semangat persaudaraan bagi bangsa ini. Begitupun pluralisme sebagai sebuah nilai oleh Gus Dur dijabarkan hingga pada perilaku dan garis hidupnya sehingga penghormatan terhadap kelompok lain dan kelompok minoritas selalu dikedepankan. Sumbangsih ini cukup berharga bagi kehidupan berbangsa dan bernegara bagi Indonesia.
Meninggalnya Gus Dur merupakan berita sedih bagi seluruh bangsa Indonesia. Betapa tidak tokoh yang menyebarkan nilai-nilai pluralisme, kesetaraan dan pemikiran progresif yang susah di cari tandingannya di negeri ini meninggal. kalangan santri dan kiai banyak yang merasa kehilangan. Kalangan nasionalis merasa kehilangan. Begitu juga dengan tokoh agama dari agama lain selain Islam juga merasa kehilangan. Kematian seorang tokoh suatu agama kemudian diratapi pemeluknya itu lumrah. Tapi ini lain, Gus Dur yang beragama Islam diratapi oleh hampir seluruh pemeluk agama di Indonesia, tidak hanya pemeluk Islam. Kepergian Gus Dur kemudian lambat laun terasa syahdu, damai, namun tetap meninggalkan kedukaan mendalam atas perjuangan demokrasi, pembelaan terhadap rakyat yang tertindas, menampilkan agama Islam yang bersifat rahmatan lil alamin, dan hal-hal indah lainnya.
Bangsa ini bisa melihat betapa Gus Dur yang dulu pemikiran dan sepak terjangnya penuh kontroversi ketika meninggal justru melahirkan kesadaran bahwa orang Istimewa seperti beliau tidak banyak di negeri ini. Kerumunan orang yang menyambut jenazah di kediamannya di Ciganjur Jakarta, menggambarkan bahwa sosok Gus Dur adalah sosok yang begitu berharga bagi negeri ini. Kita akan lebih terpana lagi ketika sekitar sepuluh ribu orang datang ke Tebuireng, mengiringi pemakaman beliau dengan penuh ketulusan dan keikhlasan. Adalah kenyataan bahwa kebesaran dan jasa Gus Dur adalah memang besar, tulus, dan benar-benar menyentuh nurani bangsa ini. Para pengiring pemakaman ini datan dari penjuru negeri Indonesia tanpa diundang dan dihimbau. Mereka datang dan pulang sendiri, membayar transportasi sendiri, mengurus makan sendiri dan juga memanjatkan doa dengan menitikkan air mata, seakan berat untuk meninggalkan pusara yang sederhana itu. Pusara yang belum digali bahkan ketika Gus Dur sudah sampai ke rumah duka di Ciganjur. Sungguh jauh berbeda dengan pusara pemimpin negeri ini yang lain yang dibangun megah, dipersiapkan sejak lama dan mewah.
Warga kemudian masih berdatangan pada hari-hari sesudah pemakaman Gus Dur selesai, dengan jumlah yang tetap banyak, berasal dari daerah yang jauh pula, dan tujuan mereka sama, memanjatkan doa untuk Gus Dur. mereka beramai-ramai membacakan tahlil, berdoa, bermunajat, membuktikan bahwa Gus Dur senantiasa ada di hati mereka. Gus Dur memperoleh tempat istimewa di hati para peziarah dan mungkin juga pada mereka yang tidak bisa datang karena tidak punya waktu dan uang. Yang jauh menyampaikan ucapan duka melalui media massa. Ada juga yang mengadakan acara di kampung dan komunitas masing-masing untuk mendoakan Gus Dur sembari mengenang pemikiran dan kelakar-kelakar cerdasnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: