Cerita petani mandiri

Ada seorang pendamping petani dari Jawa Tengah yang bercerita mengenai dialognya dengan seorang pejabat pertanian. Dialog itu berisi seputar penamaan lembaga petani yang dilahirkannya bersama kerabat tani di desanya. dari dialog ini nampak bahwa di kalangan pejabat pertanian masih ada dan terjadi sesat pikir dalam memandang posisi mereka dan posisi petani yang notabene adalah rakyat Indonesia. Dari situ kita menjadi paham terhadap berbagai sebab mengapa terjadi kemandegan dalam pembangunan petanian di Indonesia. Salah satunya terakam dalam dialog antara pendamping petani dan pejabat pertanian ini.

Nama lembaga tani terserbut dibelakangnya ada kata “mandiri”. Pejabat pertanian ini menanyakan maksud dari pemberian nama itu padahal sebelumnya satu huruf M terakhir itu bisa diartikan makmur, maju, atau lainnya. Pendamping petani itu bilang bahwa cita-cita dari lembaganya adalah biar ke depan petani bisa mandiri, bisa berpikir mandiri dan hidup mandiri. selain itu secara organisatoris juga ada keinginan agar lembaganya bisa mandiri. Jawaban petani ini lugas, jelas dan tidak menyakiti siapapun.
Lantas pejabat pertanian ini bilang “mandiri tapi masih minta bagian” katanya mengejek. Maksudnya pejabat ini adalah lembaga petani tersebut masih menjalin hubungan dengan dinas pertanian, masih sering mengajukan proposal, masih mengakses program, dan masih mau menerima program tersebut. Maka pejabat ini tidak percaya dan terkesan sinis ketika mendengar penjelasan tentang maksud kata “Mandiri” tadi, apalagi tentang cita-citanya. Bahkan mungkin pejabat ini menganggap kata mandiri sebagai pura-pura saja.
Pendamping petani tadi akhirnya menanggapi dengan nada agak tinggi: “lembaga kami mengajukan proposal itu tidak mengemis uang anda. Lembaga kami mengajukan program itu tidak meminta-minta uang anda. Itu adalah uang rakyat, yang lembaga petani kami juga berhak. Atau jangan-jangan anda mengira bahwa uang di kantor anda itu uang kakek buyut anda?” Katanya. kemudian pendamping itu melanjutkan: “Anda ini sebagai pejabat negara digaji dari uang rakyat, sejak jaman nenek moyang saya sudah begitu.” katanya menambahi.
begitulah ceritanya.

cerita petani mandiri
Ada seorang pendamping petani dari Jawa Tengah yang bercerita mengenai dialognya dengan seorang pejabat pertanian. Dialog itu berisi seputar penamaan lembaga petani yang dilahirkannya bersama kerabat tani di desanya. dari dialog ini nampak bahwa di kalangan pejabat pertanian masih ada dan terjadi sesat pikir dalam memandang posisi mereka dan posisi petani yang notabene adalah rakyat Indonesia. Dari situ kita menjadi paham terhadap berbagai sebab mengapa terjadi kemandegan dalam pembangunan petanian di Indonesia. Salah satunya terakam dalam dialog antara pendamping petani dan pejabat pertanian ini.Nama lembaga tani terserbut dibelakangnya ada kata “mandiri”. Pejabat pertanian ini menanyakan maksud dari pemberian nama itu padahal sebelumnya satu huruf M terakhir itu bisa diartikan makmur, maju, atau lainnya. Pendamping petani itu bilang bahwa cita-cita dari lembaganya adalah biar ke depan petani bisa mandiri, bisa berpikir mandiri dan hidup mandiri. selain itu secara organisatoris juga ada keinginan agar lembaganya bisa mandiri. Jawaban petani ini lugas, jelas dan tidak menyakiti siapapun.Lantas pejabat pertanian ini bilang “mandiri tapi masih minta bagian” katanya mengejek. Maksudnya pejabat ini adalah lembaga petani tersebut masih menjalin hubungan dengan dinas pertanian, masih sering mengajukan proposal, masih mengakses program, dan masih mau menerima program tersebut. Maka pejabat ini tidak percaya dan terkesan sinis ketika mendengar penjelasan tentang maksud kata “Mandiri” tadi, apalagi tentang cita-citanya. Bahkan mungkin pejabat ini menganggap kata mandiri sebagai pura-pura saja.Pendamping petani tadi akhirnya menanggapi dengan nada agak tinggi: “lembaga kami mengajukan proposal itu tidak mengemis uang anda. Lembaga kami mengajukan program itu tidak meminta-minta uang anda. Itu adalah uang rakyat, yang lembaga petani kami juga berhak. Atau jangan-jangan anda mengira bahwa uang di kantor anda itu uang kakek buyut anda?” Katanya. kemudian pendamping itu melanjutkan: “Anda ini sebagai pejabat negara digaji dari uang rakyat, sejak jaman nenek moyang saya sudah begitu.” katanya menambahi.begitulah ceritanya.

Iklan

4 Tanggapan to “Cerita petani mandiri”

  1. tulisannya bagus, kayaknya aku sudah pernah baca, tapi dimana yach ?!
    Oya, di mading sekolah MI Sumberejo-Pabelan, he..he..

    Suka

  2. Pak ceritanya terlalu singkat. tapi langsung mengena.
    tapi, kenapa anda tulis 2 kali?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: