Membendung angin,

Teknologi, salah satunya lahir disebabkan kebutuhan manusia untuk berpikir, bertindak, bahkan mengambil keputusan dengan cepat, efektif, dan terukur. Teknologi yang semula menjadi alat bantu, kemudian berangsur berubah menuju pola, ukuran, kebiasaan, gaya hidup, dan bahkan membentuk logika berpikir.

Ini nampak pada bagaimana repotnya sebagian besar manusia ketika mati lampu, komputer kena virus, koneksi internet terputus, dan jaringan seluler mati. Ketika  itu terjadi sebenarnya kompas masih hidup, jam tangan masih jalan, matahari masih bersinar, arah mata angin tidak berubah, dan sawah ladang masih bisa berproduksi, menghasilkan pangan. Tapi itu semua jadi terasa kurang membantu mengatasi pekerjaan manusia yang semakin rumit.

Bila listrik mati akan berimbas pada matinya matinya layanan seluler dan operasional komputer. Maka jaringan internet pun akan terkena imbasnya. Genset mungkin bisa membantu, tapi mahal dan akan semakin bila listrik padam selama 2 minggu misalnya. Komputer mati akan menghentikan aktifitas pasar modal, aktifitas perkantoran, perbankan, bandara, pelabuhan, dan tak kalah penting adalah institusi militer. Akan sulit dan nyaris tidak mungkin operator bandara menaikkan dan menurunkan pesawat secara manual. Kalau itu yang terjadi maka 99% kematian sudah di depan mata.

Artinya pola hidup manusia sudah sedemikian jauh dibentuk oleh perkembangan teknologi yang selalu saja berkembang. Dalam tahapan ini orang yang berpikir untuk memutuskan tidak akan bersentuhan dengan teknologi akan mengalami kesulitan tersendiri. Termasuk juga ketika pemerintah menutup mata atas perkembangan teknologi, maka akan kesulitan sendiri dibarengi dengan kesulitan yang akan dihadapi rakyatnya.

Perubahan iklim misalnya, sudah barang tentu penting posisi teknologi untuk membantu memecahkannya agar persoalan yang dihadapi petani segera terpecahkan. Mulai dari teknologi yang paling sederhana hingga yang paling canggih harus dilihat kira-kira mana saja yang bisa dimanfaatkan. Pilihan yang tepat akan sangat membantu dan pemerintah harusnya berpikir ke arah ini. Pemanfaatan satelit cuaca yang canggih misalnya, atau pembaruan peralatan BMG misalnya, bisa dilakukan. Sehingga kelangkaan pangan akibat kondisi musim yang tidak menentu harusnya dihadapi dengan berpikir ke arah pemanfaatan teknologi. Tapi yang terjadi saat ini justru tindakannya adalah import beras, ikan teri, lele, yang tentu tidak menyelesaikan persoalan.

Demikian juga ketika didapati bahwa kualitas pendidikan Indonesia begitu rendahnya di hadapan negara-negara lain, lulusan pendidikan tinggi begitu banyaknya yang menuntut jadi pegawai negeri sipil, ketika ledakan lulusan sekolah dan sarjana yang ribuan setiap tahunnya sementara yang tertampung di dunia kerja sedikit sekali prosentasenya, teknologi juga bisa dimanfaatkan.

Internet sebenarnya membuka mata bahwa sebenarnya ada ribuan profesi yang bisa ditekuni untuk menjadi tumpuan hidup. Pekerjaan itu tidak hanya PNS, Petani, dan Swasta, sebagaimana diajarkan dalam persekolahan. Uang itu tidak hanya di dapat dari gaji pegawai negeri, karyawan, buruh,  jualan di toko, atau dari bertani. Ada ribuan sumber pendapatan lain yang bisa digali. Dengan demikian ketergantungan lulusan pada pemerintah bisa diperkecil.

Maka sungguh aneh ketika masih ada sebagian orang disana yang memandang teknologi sebagai sesuatu yang negatif dan harus dihindari. Rakyat harus dilindungi agar tidak terpapar perkembangan teknologi yang negatif dan merusak moral, sementara membendung teknologi dari rakyat adalah tindakan yang lebih tidak bermoral, karena menghalangi rakyat untuk lebih cerda, lebih berkualitas dan berkembang lebih baik. Membendung teknologi untuk rakyat sama artinya membendung angin, yang ketika kecil bisa dilakukan tapi ketika besar justru akan menghancurkan bendungannya dan orang yang memasangnya. Menyedihkan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: