Kritik nalar kita

Menyelesaikan masalah adalah bagian dari hidup dan kekuatan akal berperan besar di dalamnya. Seberapa besar persoalan seseorang bisa diselesaikan bergantung pada seberapa besar orang tersebut menggunakan kekuatan akalnya. Adapun besaran kualitas penyelesaian persoalan bergantung pada ketajaman nalar atau daya kritisnya. Semakin tajam nalar kritisnya maka akan semakin berkualitas solusi yang didapatkannya.

Solusi yang cerdas dan berkualitas akan meminimalisir terjadinya buntut masalah, bahkan bisa jadi masalah selesai sama sekali. Sebaliknya, solusi yang tidak cerdas dan tidak berkualitas justru akan menimbulkan masalah baru bahkan ketika masalah lama belum sepenuhnya terselesaikan.

Nalar kritis seseorang tidak lahir begitu saja. itu timbul dari kemauan untuk bebas berpikir, peduli, dan mengasah kepekaannya terhadap persoalan yang dihadapinya. Sehingga orang tersebut sampai pada pokok masalahnya. Dengan kata lain diperlukan proses “belajar” terus menerus hingga seseorang mencapai kepekaan dan ketajaman dalam berpikir. Harapannya orang tersebut bisa memiliki semacam “pisau tajam” untuk mengupas masalah hingga sampai di dalamnya.

Menyelesaikan persoalan dengan kekuatan nalar kritis akan menghindarkan dari timbulnya masalah baru. Karena segenap tindakan, pikiran, energi dan strategi difokuskan pada penyelesaian pokok persoalan. Termasuk di dalamnya merumuskan cara yang bijaksana dalam mengambil keputusan.  Ini bisa dilakukan ketika pokok persoalan benar-benar telah ditemukan. Ketika seseorang salah dalam menentukan pokok persoalan persoalan, maka tindakan, pikiran dan bahkan strategi yang digunakan tidak menuju ke arah penyelesaian. Justru orang tersebut membuka peluang menuju timbulnya persoalan baru. Sehingga orang itu seakan-akan kerja keras menyelesaikan masalah, tetapi sebenarnya tengah berjalan pada ranah persoalan baru yang jauh dari pokok persoalannya. Ini akibat dari kurangnya berpikir kritis dalam membaca sebuah persoalan dan penerapan cara yang kurang tepat. Istilahnya jauh panggang daripada api.

Misalnya dalam memandang persoalan pornografi di internet. Ada yang berpandangan bahwa masalah pornografi di tengah masyarakat disebabkan karena teknologi internet dan segenap turunannya telah masuk ke masyarakat. Maka pandangan terhadap internet harus bijaksana sehingga penyelesaian persoalan pornografi ini tidak menghalangi orang lain yang prograsif dan produktif dari internet. Karena selain content pornografi, internet juga memuat jutaan kontent bermanfaat untuk pembelajaran, referensi dan dokumentasi sehingga berperan penting bagi kemajuan peradaban manusia.

Bahwa internet memuat kontent pornografi itu iya, dan bahwa kontent pornografi itu tidak baik bagi perkembangan masyarakat itu bisa jadi benar. Tetapi ketika hal tersebut kemudian disikapi dengan pelarangan menggunakan internet misalnya, maka tindakan seperti itu tidak bisa dibenarkan. karena internet adalah sesuatu yang tidak bisa lagi dinafikan keberadaannya saat ini. Adalah mustahil menyuruh generasi muda kembali ke era 60-an tanpa handphone dan internet. Sama mustahilnya mengembalikan mereka ke jaman batu. Ini justru akan menimbulkan masalah baru. Kontent pornografi sendiri sebenarnya tidak hanya ada di internet. Dalam diri manusia saja sudah termuat hal itu. Keberadaan nafsu, alat kelamin, dan fantasi seksual tentu ada di semua orang normal sebagai bagian dari skenario Tuhan melestarikan kehidupan. Ini sesuatu yang tidak bisa dihindari dan tetap akan terpicu meskipun tidak ada internet. Akan sia-sia memblokir internet dengan tujuan menghindari pornografi, karena orang yang yang tidak baik dalam mengelola persoalan seksualnya pasti akan mencari cara lain untuk mencari kepuasan seksualnya. Dan yang jadi korban adalah jutaan orang lain yang sebenarnya bisa lebih produktif dan kreatif dari internet, menjadi terhambat karena internet tidak tersedia.

Gambaran lainnya misalnya tentang pandangan terhadap kesehatan. Banyak yang berpandangan bahwa sehat itu ketika seseorang tidak merasakan sakit. Dan banyak juga yang berpandangan bahwa ketika orang sakit harus berobat. Cara pandang seperti ini sangat berpengaruh pada orientasi kesehatan seseorang atas diri dan pola pengembangan kesehatannya. Bahkan berpengaruh pada keyakinannya terhadap arti sehat, arti sakit, arti obat dan diterjemahkan dalam tindakan-tindakannya. Apakah orang sehat itu ketika orang tidak merasakan sakit? apakah ketika orang sakit itu harus berobat? jawabannya bisa jadi bermacam-macam. Tetapi sebelum mengeluarkan jawaban mungkin kita bisa menelusuri beberapa fakta yang terjadi diseputar kesehatan. Hingga nantinya kita mungkin akan merevisi definisi dan pemahaman tentang sehat, sakit dan obat.

Ada banyak kasus orang sudah terjangkit penyakit teramat ketika dia mulai merasakan sakit, sehingga ketika di bawa ke rumah sakit, harus di rawat berbulan-bulan dan berbeaya mahal untuk bisa sembuh. Sebagian yang lain bahkan tidak tertolong. Ada juga problem kesehatan yang justru tidak begitu menimbulkan rasa sakit, seperti penyakit panu, rambuk rontok, kutil, atau kamur di bawah kuku. Berarti asumsi sehat adalah tidak merasakan sakit, perlu dikritisi lagi.

Hal ini karena akan berkaitan dengan pola penjagaan kesehatan dan lain-lainnya. Bahkan ada pendapat bahwa sehat adalah ketika terjadi upaya-upaya untuk menjaga keberlangsungan kesehatannya. Ini sudah terkait dengan pola makan, olahraga, rutinitas buang air besar, asupan gizi hingga sikap seseorang terhadap lingkungan.

Apakah sakit harus berobat? Ini juga harus cermati. Bahwa setiap penyakit itu ada obatnya itu benar. Dan sakit yang tidak terobati akan terus menjadi penyakit. Pertanyaannya adalah darimana obat itu berasal dan seperti apa bentuk dan perannya dalam proses penyembuhan? jangan-jangan obatnya sudah ada dalam tubuh kita, berupa daya tahan atau kekebalan tubuh itu sendiri? Dan jangan-jangan obat yang kita minum justru menghambat kekebalan tubuh mengobati penyakit yang kita derita?

Sederhanannya begini, ada orang yang harus mengeluarkan ratusan juta rupiah untuk berobat atas penyakitnya. Padahal penyakitnya itu sebenarnya bisa dicegah kalau dia mau hidup sehat dengan beaya yang mungkin tidak perlu mencapai ratusan juta karena banyak hal sudah tersedia di alam dan murah. Tetapi kenyataannya orang (lebih rela) mengeluarkan ratusan juta kepada pihak rumah sakit demi kesembuhannya, daripada menginvestasikan sekian juta untuk menunjang kesehatan diri dan keluarganya. Bukankah itu penyelesaian masalah yang justru meninggalkan masalah? Apalagi kalau duit ratusan juta itu tidak tersedia sebelumnya?/jb

Satu Tanggapan to “Kritik nalar kita”

  1. emang bener banget gan. Artikelnya puanjang gan. Sukses selalu gan

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: