Minum secangkir kopi pagi ini

Saya menyeruput secangkir kopi di pagi itu ketika teringat kembali perbincangan dengan seorang teman, ketua sebuah partai. Ia menyatakan bahwa kepingin hidup normal sebagaimana layaknya orang lain, kecukupan soal finansial, masa depan jelas, dan tentu saja sejahtera kehidupannya. Sebagai ketua partai tentu paparan seperti itu menarik karena di partai, sebagai media perjuangan rakyat di negara demokrasi justru disangsikan oleh ketuanya sendiri.
Iya, partai adalah instrument perjuangan rakyat untuk menyalurkan aspirasinya, menuju kehidupan yang lebih sejahtera, adil dan beradab, melalui para wakil rakyat yang diusung partai di legislatif. Kader berkualitas partai harusnya terpilih menjadi anggota legislatif, dan perjuangkan konstituennya atas berbagai aspirasi yang ada dan persoalan yang dihadapi. Jika semua partai berperan seperti ini maka demokrasi di negara ini bisa diharapkan terwujud. Lantas, mengapa justru disangsikan oleh ketuanya sendiri?
Rupanya pengalaman dia di partai selama ini menyadarkan dirinya akan sebuah realitas pahit di negeri yang katanya demokratis ini. Partai tak ubahnya sebuah pasar yang mana hampir segalanya dihitung dengan kekuatan dan kontrol uang. Karena menyerupai pasar maka kemudian harga menjadi penentu dan dasar pengambilan sebuah kebijakan. Dan hal ini sedikit demi sedikit menggeser keberadaan kader militan yang sudah bertahun-tahun bekerja untuk kebesaran dan perjuangan partai sehingga hidup dan dikenal bahkan dipercaya dan dipilih konstituennya.
“Ketika ada seseorang yang memiliki duit banyak, kemudian datang ke sebuah partai, lalu bilang,”Pak ini saya mau mencalonkan diri dari jadi legislatif dari partai bapak, apakah boleh?”, tentu tidak akan ditolak walaupun orang itu sebelumnya tidak pernah di partai, tidak pernah bekerja di partai, dan sibuk jadi pengusaha misalnya.” Demikian teman saya berkata sambil bersungut sungut. ” Kader partai yang puluhan tahun bekerja untuk partainya, memiliki dedikasi dan kekuatan cerdas, tapi tidak punya duit kemudian tersingkir dari kancah partai itu. Seakan tidak ada tempat bagi kader partai yang miskin dan tidak punya duit untuk besar dan berperan di partai, di legislatif, dan di kekuasaan.
Mendengarkan keluh kesah teman saya tadi saya sungguh prihatin, mengingat dia termasuk kader muda dan cerdas dalam sebuah partai. Pandangannya progresif, berwawasan kebangsaan dan berpikir soal kerakyatan ketika memimpin partainya. Tetapi sistem kepartaian saat ini menyebabkan dirinya membentur tembok sehingga tidak memberi ruang gerak bagi mereka ketika tidak merubah pola berpikir politiknya dengan mainstream sekarang.
Ternyata kekuatan pasar dan uang telah mengontrol kehidupan partai dan politik bangsa ini sehingga mempengaruhi hampir seluruh sendi kehidupan partai politik. Logika dan rasionalitas sebuah partai telah berubah menjadi rasionalitas dan logika pasar. Idealitas, idoelogi, paradigma, dan cita-cita kebangsaan tidak bisa diuangkan, sehingga tidak menjadi hitungan prioritas di partai./jab

Satu Tanggapan to “Minum secangkir kopi pagi ini”

  1. […] Workshop Corner – Kegiatan di Luar Ekstrakurikuler yang Berdimensi pada Skill AplikatifIndonesia-3 Kali Menang, Akankah Menjadi 4Handry Satriago on SalesBab VII Sekolah PadmajayaMinum secangkir kopi pagi ini […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: