Belajar membangun kedaulatan pangan ala Yusuf

Konsep Yusuf yang berangkat dari mimpi raja telah menyelamatkan Mesir dari kelaparan hebat akibat perubahan iklim. Demikianlah, mimpi raja yang dimaknai sebagai sebuah pertanda alam khas Afrika kemudian diterjemahkan dalam konsep tata kelola kedaulatan pangan. Yusuf, sang nabi pembaca mimpi, atas perintah raja, kemudian memimpin sendiri pengelolaan pangan selama 14 tahun sehingga paceklik bisa dilewati. Inilah sejarah membangun kedaulatan pangan atas sebuah bangsa yang terekam sejarah dunia.

Tujuh tahun pertama kerajaan mesir akan sejahtera, pangan berlimpah, makmur sentosa. Tanah subur, sungai nil memberikan berkahnya, membawa kesuburan dan rahmat berlimpah limpah. Bahan pangan mudah di dapat, karena memang alam dengan segala kemurahannya menyediakan. Panenan sukses sehingga rakyat damai dan sejahtera. Ini tergambar dari mimpi raja yang menyaksikan tujuh sapi gemuk makan rumput di sungai nil. Kemudian disusul mimpi kedua dengan melihat tujuh batang pohon gandum subur yang keluar dari batanngya bulir gandum lebat.

Tujuh tahun berikutnya sungai nil mengering, tentu disebabkan oleh perubahan iklim global. Panenan sedikit dan karena kekeringan berlangsung panjang, maka panenan nyaris tidak ada. Lahan pertanian kering, panen merosot, stok pangan tentu terancam. Alam tiada kuasa menyediakan bahan pangan karena sungai kering. Harga pangan akan mahal, bahkan ketersediaan barang akan langka. Stabilitas bisa terganggu. Keamanan dan ketentraman menjadi terancam, karena persediaan pangan akan habis. Ini tergambar dari mimpi munculnya tujuh ekor sapi kurus yang memakan sapi gemuk tadi, dan juga munculnya tujuh batang gandum kurus yang memakan tujuh batang pohon ganbum gemuk dan lebat.

Visi kenabian Yusuf mengatakan bahwa kedua mimpi itu pada hakekatnya memiliki takwil sama. Dan mimpi datang dua kali berarti peristiwa akan segera terjadi. Raja harus membuat keputusan tepat, dan tentu saja cepat. Firaun, raja yang berkuasa akhirnya menitahkan kepada Yusuf untuk menggarap proyek kedaulatan pangan kerajaan mesir. Yusuf bersedia, dan mendapat kuasa penuh untuk membangun kedaulatan penuh dengan dukungan dari raja. Yusuf bertumpu pada dua hal besar yaitu sungai nil dan rakyat Mesir itu sendiri. Titah raja, visi kenabian, rakyat Mesir, dan keberadaan sungai Nil bersinergi membangun kedaulatan pangan mesir.

Titah raja jelas, yaitu bagaimana mimpi itu di ceritakan, ditakwilkan, diterjemahkan, ditafsirkan dan diturunkan menjadi kebijakan pemerintah. Kebijakan raja itu kemudian dipertegas dengan penunjukan Yusuf untuk mengembangan program agar kedaulatan pangan terbangun dalam melewati masa paceklik. Dengan demikian bangsa Mesir terhindar dari bencana kelaparan, dan persoalan-persoalan lain yang diakibatkannya. Titah raja ini tentu berlaku untuk segenap birokrasi, kementrian hingga perdana menteri sehingga pekerjaan ini kemudian menjadi kepentingan bersama seluruh elemen kerajaan, dengan raja sebagai garansinya. Seluruh fasilitas dan keuangan kearajaan boleh digunakan untuk membangun lumbung, irigasi, dan segala hal lain yang dibutuhkan untuk menunjang kesuksesan pekerjaan besar ini.

Visi kenabian Yusuf nampak mulai dari kecemerlangan membaca mimpi raja, mengaitkan takwil isi mimpi dengan situasi dan potensi yang dimiliki Mesir dan tentu saja tindakan-tindakan yang ditempuh. Lahan pertanian di intensifkan, lumbung dibangun, saluran irigasi dan penataan pemanfaatan air dibuat. Selain itu pemerintah juga memungut sebagian panenan dari petani untuk disimpan dilumbung-lumbung pangan yang telah dibangun. Dari situasi ini nampak kalau pekerjaan yang digagas dan dilaksanakan Yusuf melibatkan banyak lembaga, banyak orang, banyak jenis pekerjaan dan butuh waktu lama. Hal ini mensyaratkan adanya tata aturan yang konprehensif dan koordinasi serta kondolidasi yang berjalan sedemikian rupa. Ego sektoral disingkarkan jauh jauh. Sehingga hasilnya kemudian bisa dirasakan betul ketika memasuki tahun ke delapan hingga tahun tahun selanjutnya.

Yusuf paham betul bahwa sebagus apapun pandangan dan konsepnya, bahkan sekuasa apapun raja, tanpa dukungan kuat dari petani maka program itu tidak akan berhasil. Tentu Yusuf tak akan mencangkul sendiri, Raja juga tidak mungkin menjemur gandum dan padi sendiri. Yusuf berpikir bagaimana rakyat Mesir mau berkontribusi besar pada upaya-upaya untuk menyukseskan program kedaulatan pangan tersebut. Bahan pangan yang berhasil dihimpun dan menjadi cadangan selama paceklik adalah hasil tani yang dipungut oleh petugas untuk kemudian disimpan di lumbung. Sarana, peralatan, teknologi, lumbung atau gudang, dan pengetahuan penyimpanan bahan pangan menjadi kewajiban negara. adapun produksi, pengolahan pasca panen hingga siap disimpan menjadi ranah masyarakat tani. Pembagian kerja ini perlu dipahami masing masing elemen untuk menghindari saling lempar tanggung jawab dan kepentingan.

Yang terakhir dan paling utama adalah sungai nil itu sendiri. Nil, sungai terpanjang di Afrika ini disadari betul oleh Yusuf sebagai anugrah, potensi sekaligus kekuatan Mesir. Dari Nil lah mimpi Firaun timbul, dan dari Nil pulalah Yusuf menumpukan segenap kebijakan kedaulatan pangannya dengan menterjemahkan mimpi raja sebagai warning akan pentingnya membangun ketahanan dan kedaulatan pangan. Nil, potensi kekayaan tiada tara yang darinya mengalir segenap potensi agraria tiada duanya untuk mengairi bentangan lahan pertanian mesir, wilayah kekuasaan firaun. Kesadaran ini pula yang menjadi nilai dasar dan dijadikan landasan berpikir bagi seluruh pihak yang merasa berkepentingan untuk menjaga kedaulatan pangan, tujuh tahun di masa subur, menghadapi tujuh tahun masa paceklik. Intinya Yusuf berpandangan bahwa Nil adalah tumpuan kekuatan alam untuk membangun kedaulatan pangan di mesir.

Hasil kerja Yusuf terbukti berhasil. Mesir sukses melewati masa-masa sulit akibat akibat kekeringan, merosotnya hasil panen, dan kekurangan bahan pangan. Yusuf secara ketat mengatur peredaran bahan makanan dengan membangun lumbung pangan. Keberhasilan ini pula yang akhirnya mempertemukan saudara-saudara Yusuf nun jauh disana. Mereka datang ke Mesir hendak membeli bahan pangan. Bahkan peristiwa ini terulang dua kali hingga akhirnya ayah yusuf datang untuk berkumpul dengan yusuf. Ini gambaran betapa hebatnya paceklik yang dialami afrika kala itu sehingga orang sejauh keluarga yusuf pun membeli bahan pangan ke mesir.

2 Tanggapan to “Belajar membangun kedaulatan pangan ala Yusuf”

  1. ismail hasan Says:

    Subhanallah … nabi yusuf adlh pioneer agama yang modern nan bijak.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: