harga dan mutu; apa hubungannya?

Ada yang bilang barang bagus itu didasarkan atas mutu dan kualitasnya. Ada yang bilang juga bahwa mutu dan kualitas barang bisa dilihat dari tinggi rendahnya harga yang ditentukan. Tak jarang ada yang berpikiran bahwa barang bagus dilihat dari pembuatnya, dengan kata lain barang bagus dilihat dari tangan siapa barang itu dihasilkan. Orang dulu pernah bilang bahwa ada harga ada rupa yang mengindikasikan bahwa harga menjadi penentu mutu dan kualitas barang. Walaupun Ada harga ada rupa juga menjadi indikasi bahwa semakin tinggi mutu dan kualitas barang akan berimbas pada kenaikan harga.

Petani sayur, tembakau, cabai, kentang, padi, kadang bingung, Sering ditemui keadaan dimana mutu dan kualitas barang seakan tidak berhubungan dengan harga yang berlaku. Mutu dan kualitas barang pertanian yang dihasilkan bagus-bagus, tetapi petani tetap saja tidak bisa (dengan mudah) membuat harga. Pedagang yang tidak berkeringat menanam dan merawat, pejabat  yang nyaris tidak pernah turun ke sawah, justru ikut-ikutan menentukan bahkan sering mereka yang menetapkan harga. Tembakau dan wortel bagus belum tentu laku mahal, ketika pembeli tidak berkehendak membeli dengan harga mahal. Begitu pula daging sapi, bukan pemotong sapi yang membuat harga tapi mungkin siluman sapi yang tiba-tiba menentukan harga yang harus dibayar konsumen daging setiap kilogramnya. 

Penjual pakaian dan barang elektronik lain lagi, entah apa motif nya mereka sering menurunkan harga dengan mencoret harga lama dan mengganti dengan harga baru. Namanya bisa macam-macam, misal bulan promosi, diskon natal, obral tahun baru, cuci gudang, dan lain sebagainya. Apakah ketika harga diturunkan otomatis kualitasnya turun, atau memang kualitas sebenarnya memang seukuran harga setelah dipotong diskon, tentu anda bisa berpikir sendiri. Tetapi banyak juga yang berpikiran bahwa penurunan harga tidak menunjukkan rendahnya kualitas barang yang di diskon. Terbukti banyak yang menyambut dengan suka cita, bahkan menunggu hingga datangnya hari “bahagia” tersebut untuk membeli barang kesayangannya.

Ada juga beberapa pihak yang tetap pakem dalam menentukan harga sebagaimana wajarnya sebuah harga ditetapkan. Perusahaan akan memiliki akunting yang akan menganalisa berapa besaran harga yang harus ditetapkan untuk produk yang mereka jual. Pengusaha gorengan tetap memiliki kewenangan atas tinggi rendahnya harga gorengan yang mereka hasilkan dan mereka jual di tengah kenaikan harga BBM dan pelemahan rupiah. Operator jasa fotocopy dan percetakan tetap bisa menentukan harga jual jasanya terlepas dia tertekan dari kenaikan harga-harga diluar sana. Operator airline lebih bebas lagi menentukan tarif, bahkan dalam satu penerbangan pun bisa jadi terdiri dari beragam harga tiket.

Ketidak adilan harga menimpa beberapa pihak yang selama ini tidak punya kewenangan menentukan harga karena berbagai sebab. Petani tetap sulit menentukan harga karena ada pedagang dan produk import di pasaran. Kalau tetap memaksa naik maka produk yang dijual akan kalah bersaing dengan produk pertanian import. Sopir angkot tetap ditegur ketika menaikkan tarifnya karena penentu tarif bukan operator angkot apalagi sopir. Operator SPBU tidak bisa menaikkan harga jual per liter karena mereka hanya penjual. Bukan produsen bukan pula penentu harga, walaupun kadang ada yang mengakali konsumen.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: