Sekali lagi; gerakan mahasiswa

Di Indonesia gerakan mahasiswa yang cukup besar dan terekam sejarah adalah peristiwa di tahun 1998 dengan peristiwa tragedi Tri Sakti, kemudian di tahun berikutnya ada dua peristiwa yang menelan korban dikenal dengan tragedi semanggi I dan tragedi semanggi II. Tragedi Tri Sakti terjadi sebagai akibat dari penanganan represif aksi yang menuntut turunnya Soeharto dari presiden. Peserta aksi  yang tewas dalam tragedi ini adalah Elang Mulia Lesmana (1978 – 1998), Heri Hertanto (1977 – 1998), Hafidin Royan (1976 – 1998), dan Hendriawan Sie (1975 – 1988). Para peserta aksi ini karena tewas tertembak di dalam kampus, terkena peluru tajam di tempat-tempat vital seperti kepala, tenggorokan, dan dada.

Tragedi Semanggi I terjadi akibat dari penolakan atas digelarnya sidang istimewa. Korban tewas dalam tragedi ini adalah warga sipil. Sedangkan tragedi semanggi II dipicu adanya pendesakan oleh pemerintahan transisi untuk mengeluarkan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya (UU PKB). materinya menurut banyak kalangan sangat memberikan keleluasaan kepada militer untuk melakukan keadaan negara sesuai kepentingan militer. Oleh karena itulah mahasiswa bergerak dalam jumlah besar untuk bersama-sama menentang diberlakukannya UU

Polisi menangani peserta aksi dengan kekerasan

PKB.

Mengapa gerakan mahasiswa ada?
Dalam sebuah tulisannya, Ricardo Rahmat H. Siahaan menjelaskan bahwa beberapa hal berikut bisa memicu pergolakan di mahasiswa dan mendorong lahirnya gerakan mahasiswa. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Kemampuan berpikir.
Mahasiswa tentu akan mengedepankan nalar kritisnya bukan intuisi dan dugaan-dugaannya saja. Ketika mahasiswa menyaksikan ketidak adilan, penindasan, imperialism dengan segenap bentuknya, maka nalar kritisnyalah yang menyuarakan keresahan dan dorongan untuk menentangnya.Keresahan dan kekuatan kritisnya tersebut seharusnya tumbuh seiring perjalanan mereka membangun dan mengembangkan wacana danalam berpikirnya ketika di kampus. Sehingga segenap peristiwa di hadapan mereka yang menimpa masyarakat dan bangsa ini akan disikapi dengan sikap kritis dan tindakan yang logis, bukan dengan sikap gamang dan tindakan yang intuitif, naif apalagi magis.

2. Ketidak puasan dan keresahan melihat realitas
Berkembangnya kepekaan dan kesadaran dalam diri mahasiswa akan memperkuat penangkapan pesan-pesanpenindasan, penjajahan, penghisapan, ketidak adilan, korupsi, penyalahgunaan kewenangan dan kejahatan-kejahatan yang kesemuanya itu terbungkus dalam topeng kebohongan dan gula-gula yang sesungguhnya meracuni.
Kesadaran ini kemudian menjadikan dirinya memiliki kemampuan, kekuatan dan keberanian untuk mendedikasikan dirinya, waktunya, tenaganya, pemikirannya, dan orientasi hidupnya serta keberpihakannya untuk melakukan tindakan-tindakan baik sendiri ataupun menggalang kekuatan dengan pihak lain. Ketika kerja-kerja ini berhasil maka mahasiswa memiliki modal dan dukungan untuk melakukan perubahan.
Perubahan yang diusung pasti dan jelas dan musuh utama yang menjadi sasaran perjuangannya juga tidak salah.Ketidakadilan,korupsi, penghisapan, imperialism, kemiskinan, penindasan, adalah musuh-musuh yang mesti dihadapi. Keberpihakan dan orientasi perjuangan dari gerakan mahasiswa harusnya kea rah ini.Kekuatan-kekuatan yang selama ini mempraktekkan dan melanggengkan hal-hal di atas adalah musuh utama dan perlu dihadapi dengan segenap keberanian dan semangat juang.
Empati, kepekaan, kesadaran, kepedulian, akan melahirkan sikap perlawanan dan perjuangan mahasiswa, selama hal itu semua memang ada dalam diri mahasiswa. Pertanyaannya adalah pada kemana para mahasiswa ketika negeri ini terjerebab dalam kubangan korupsi tiada tara, dalam system yang tidak berpihak pada kaum lemah, dengan Negara yang kebijakannya banyak berpihak pada kaum borjuis dan pemilik modal?

3. Reaktif
Reaktif disini dimaksudkan memiliki kecepatan dan merespon sesuatu dan cepat tanggap mengenai apa yang harus segera dilakukan. Mahasiswa paham dengan pepatah bahwa kesempatan tidak pernah dating dua kali. Ada pepatah lagi yang mengatakan bahwa kesempatan tak akan menjemput kita, tetapi kita yang harus mencari dan memperjuangkan kesempatan itu sendiri.
Kaitannya dengan aspek keberpihakan, kesadaran, kepedulian, empati dan perjuangan mahasiswa, bahwa mahasiswa akan senantiasa tanggap dan cepat bereaksi manakala ada kesempatan dan peluang untuk memperjuangkan hal-hal yang selama ini dibelanya. Ketika mengetahui bahwa UU BHP itu merugikan dunia pendidikan maka ketika ada celah untuk memperjuangkannya melalui MK maka hal itu tentu tidak disia-siakan.Atau contoh sejarah yang memperlihatkan bahwa ketika ada vacuum of power kekalahan jepang dan sekutu belum dating, maka para pemuda dan mahasiswa bergegas menculik soekarno untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

4. Idealisme
Mahasiswa yang terbangun kesadarannya, tumbuh nalar kritisnya, dan berkembang kepekaannya, tentu memiliki orientasi atas hari-harinya dikampus. Mereka memiliki kesadaran bahwa dikampus tidak hanya menyelesaikan kuliah dan tugas dari dosen, tetapi ada masyarakat di sana yang menanti ditengah kemiskinan, ketidak adilan dan ketimpangan yang menimpa mereka. Mereka memiliki nalar bahwa masyarakat Indonesia termasuk mungkin mahasiswa lain yang menjadi teman seangkatannya, belum bisa lepas dari system pekerja yang diwariskan oleh ideology imperialism penjajah melalui orang tua dan mainstream kampusnya sehingga lagi-lagi membawa bangsa ini pada system yang terjajah. Bahkan mahasiswa dan kampus seringkali terjebak pada mekanisme dan bahkan kadang menjadi agen dari kapitalisme itu sendiri.
Mahasiswa yang kepekaannya berkembang tentu menyadari bahwa bangsa ini terlena dengan aspek-aspek teknis dan kuantitatif, namun di sisi lain kekayaan dan keanekaragaman sumber daya alam dikeruk bangsa lain, sementara pemangku kebijakan kadang malah dengan bangga menyambut penjajah dengan karpet merah. Nasib rakyat yang kemudian tertindas dengan menjadi buruh di negeri sendiri tidak pernah dihiraukan.

5. Kebebasan berekspresi
Kebebasan berekspresi merupakan kekuatan mahasiswa yang cukup potensial mendampingi kemampuan berpikir. Kebebasan berakspresi akan mengarah kepada keberanian mengambil tindakan nyata atau progresifitas mahasiswa. Setelah pergulatan pemikiran dan dialektika berpikir terbangun maka mempertemukan idealitas dengan realitas adalah sebuah keharusan.Berhadapan dengan realitas membutuhkan pendekatan, metodologi dan strategi yang bervariasi atas setiap kasus.Dalam hal ini aspek kecerdasan, keberanian dan kebijaksanaan mulai di asah setelah sebelumnya mungkin berprestasi dibidang akademik.

6. Kemampuan membangun gerakan
Sejarah Indonesia tidak lepas dari gerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa adalah pengejawantahan dari apa yang selama ini ada di alam berpikirnya untuk dihadapkan pada realitas. Respon atas kondisi dan realitas social kemudian dikonsolidasikan sehingga bermuara pada tindakan bersama mahasiswa.Tindakan bersama mahasiswa inilah yang kemudian menjadi gerakan mahasiswa.Respon dan kepekaan mahasiswa atas ketertindasan dan perlakukan tidak adil yang dilakukan imperialism terhadap bangsa Indonesia telah menumbuhkan kesadaran bahwa bangsa Indonesia terjajah.Respon dan kepekaan para mahasiswa ini berkonsolidasi dan menjelma menjadi gerakan perlawanan melalui beberapa aspeknya.

Mahasiswa dan realitas negeri Indonesia saat ini
Kondisi gerakan mahasiswa hari ini tidak lepas dari rentetan sejarah gerakan mahasiswa pasca angkatan 66.Semenjak NKK/BKK ditetapkan maka mahasiswa banyak mendapat kendala untuk mengembangkan nalar kritisnya, kemampuan politiknya, dan kepekaan sosialnya.Istilahnya depolitisasi kampus terjadi dengan massif.

Kebijakan NKK dilaksanakan berdasarkan SK No.0156/U/1978 sesaat setelah Dooed Yusuf dilantik tahun 1979.Keputusan ini mengarahkan untuk tidak menyebut sebagai pemaksaan, mahasiswa hanya menggeluti jalur akademik dan menjauhkan mahasiswa dari kegiatan pengembangan nalar politik, karena mahasiswa yang berkembang nalar politiknya dipandang sebagai ancaman terhadap stablitas dan keamanan.
Dampaknya bisa dilihat sekarang ini, dimana banyak alumni dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta, nasional maupun agama, yang terjun di bidang politik, namun gagal membawa bangsa ini menuju kesejahteraan rakyatnya.Yang terjadi justru banyak tontonan dan dagelan politik yang menyuguhkan tontonan betapa para politisi tidak bisa menghayati perannya sebagai politisi, yang bertanggung jawab atas kebijakan dan arah berbangsa dan bernegara.Mereka justru sibuk memperkaya diri sendiri dengan membangun system korupsi yang massif, memperdaya undang-undang untuk kepentingan capital, memperumit hal-hal yang sebenarnya sepele, dan menyepelekan hal-hal substansial kaitannya dengan membangun peradaban bangsa Indonesia.

Adapun yang pokok dari BKK diantaranya adalah memberikan wewenang kepada rector dan wakil rector untuk menentukan kegiatan mahasiswa yang menurutnya sebagai wujud tanggung jawab pembentukan, pengarahan, dan pengembangan lembaga kemahasiswaan.

Secara implisit mahasiswa dipandang tidak lebih dari anak sekolah yang segenap kegiatan dan aktifitasnya harus diarahkan, diatur, dan tidak boleh bertentangan dengan kehendak dan keinginan penjabat kampus.Kepatuhan dan ketertiban akhirnya kadang dianggap lebih penting untuk ditegakkan ketimbang menumbuhkan kreatifitas dan nalar politik mahasiswa.Kebebasan dan aktualisasi diri tidak bisa lepas dari bayang-bayang orang yang dianggap bisa memberi nasehat dan petuah, sehingga setelah menjadi politisi dan pimpinan partai pun mereka sulit untuk berpikir mandiri dan otonom. Dengan dalih sowan, meminta restu, sesungguhnya mereka mempresentasikan politik patron yang kental dan feodalisme yang lekat.Hal ini yang sekiranya menjadi penjelasan mengapa politisi dan pengambil kebijakan kerap telat dan gagap menghadapi dinamika rakyat dan tuntutan perkembangan jaman. Rakyat sudah dikejar-kejar untuk mengejar deadline, mengejar ketertinggalan dengan Negara tetangga ketika berinteraksi online, mempublikasikan video kegiatan, tetapi menterinya malah bertanya “internet cepat-cepat untuk apa?”

NKK adalah bentuk ketakutan penguasa waktu itu menghadapi pergolakan dan dinamika mahasiswa karena kebetulan penguasa tidak mengalami kehidupan sebagai mahasiswa.Karena pimpinan waktu itu besar dan dewasa dalam budaya mataram yang feudal sehingga segenap perbedaan dan kritik sering dianggap sebagai lawan dan ancaman.Bahkan seorang Daoed Joesoef tak kuasa untuk menolak kehendak penguasa untuk menormalkan kehidupan kampus melalui NKK. Ini mungkin disebabkan oleh latar belakang Daoed Joesoef yang lulusan Fakultas Ekonomi, kemudian doctor dibidang keuangan internasional dan hubungan internasional, serta doctor di bidang ilmu ekonomi. Sehingga memandang stabilitas dan keamanan lebih penting diatas aspek kreatifitas, keberdayaan politik, dan kekuatan nalar berpikir.Tugas mahasiswa adalah belajar, dan belajar adalah masuk kuliah, dan lulus kemudian bekerja, mungkin begitu pikirnya.

BKK lebih dalam lagi.Kebijakan BKK atau badan kordinasi mahasiswa menjadikan adanya pembatasan atas dinamika organisasi di mahasiswa.Dewan mahasiswa hilang digantikan dengan senat mahasiswa fakultas dan badan perwakilan mahasiswa fakultas./

Referensi dan sumber 

Arjuna Putra Aldino, NKK/BKK :Ketika Jati Diri Mahasiswa Ditelanjangi, http://pedagos.wordpress.com/2013/05/28/nkkbkk-ketika-jati-diri-mahasiswa-ditelanjangi/, Posted by gerakanfip on Mei 28, 2013.

Iyan kurnia . NKK/BKK pada masa pergerakan mahasiswa.sunday 24, 2013., february http://12060rka.blogspot.com/2013/02/nkkbkk-pada-masa- pergerakan-mahasiswa.html.

Foto:
http://i491.photobucket.com/albums/rr274/ramaoyam/tiananmen-square-crushed.jpg
http://www.pulsk.com/124401/Tragedi-Trisakti.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: