TANGGUNG JAWAB MAHASISWA

Ini adalah pengantar diskusi terkait dengan tanggung jawab mahasiswa ataupun bagi alumni mahasiswa alias sarjana atau sebutan lainnya. Mahasiswa perlu mengelola waktu, peluang, kesempatan, mengasah keberanian, nalar kritis, membangun relasi dan jaringan, agar ketika lulus bisa diandalkan. Bukan justru menambah daftar panjang masalah republik ini. Berikut adalah hal-hal dasar yang sekiranya perlu dibangun oleh mahasiswa selama kuliah. Sehingga ketika lulus ia bisa memberikan kontribusi dan bukan justru menjadi bagian dari masalah.

  1. Berprestasi.
  2. Tanggung jawab terhadap dirinya sendiri
  3. Kepedulian sosial
  4. Kepekaan sosial.
  5. Kerelaan untuk berkorban

Berprestasi

Jelas sekali bahwa mahasiswa harus berprestasi. Bagaimana tidak, mahasiswa yang telah berkesempatan sampai di perguruan tinggi akan naif sekali kalau sampai tidak bisa meraih prestasi. Prestasi mahasiswa terbagi paling tidak dalam dua ranah yaitu prestasi akademik dan prestasi non akademik. Prestasi akademik ditandai dengan raihan skor nilai indeks pretasi hingga indeks prestasi kumulatif. Sedangkan prestasi non akademis bisa diraih dari ketrampilan menulis, berorganisasi, berpolitik, berbisnis, menjalin relasi, aktif di kegiatan sosial, keahlian di bidang seni dan lain sebagainya.

Seorang mahasiswa jika luput mendapatkan kedua atau salah satu prestasi tersebut maka bisa dikatakan bahwa ia akan memilili PR besar setelah keluar dari kampus. Bisa jadi memang sistem pendidikan yang tidak mampu mengakomodir kebutuhan mahasiswa tersebut, disisi lain bisa jadi ada yang salah dengan mahasiswanya.

 

Tanggung jawab terhadap dirinya sendiri

Mahasiswa ataupun wisudawan jangan jadi sumber masalah. Adalah memprihatinkan ketika mahasiswa sudah diwisuda kemudian dalam kurun waktu sekian bulan ia masih saja bingung harus mengerjakan apa. Bila kondisi ini berlanjut tentu akan melahirkan masalah bukan hanya bagi dirinya sendiri melainkan juga bagi orang-orang disekitarnya. Ia akan dikejar orang tuanya untuk menjawab apa saja yang dia kerjakan dan diperoleh selama kuliah. Ia akan dikejar memenuhi kebutuhan hidup dirinya sendiri. Ia akan dikejar calon mertuanya terkait dengan apa yang telah dipersiapkan setelah wisuda dan hendak menikah, dan seterusnya.

Hal ini akan memicu keprihatinan dan kesedihan bagi banyak pihak. Orang tua sedih karena sudah membeayai kuliah tetapi tidak kunjung menunjukkan kemandirian dan capaian prestasinya. Calon mertuanya sedih karena tidak bisa melihat harapan dari calon menantunya atas persiapan pernikahan dengan anaknya. Masyarakat juga sebel karena lulusan perguruan tinggi berani tampil di muka umum saja kadang tidak, bahkan ketika dimintai pendapat tentang sesuatu selalu menghindar.

Memenuhi tanggung jawab sosial. Mahasiswa bisa kuliah tentu tidak serta merta dibeayai oleh kantongnya sendiri. Mahasiswa kuliah sedikit banyak menggunakan uang rakyat, baik dalam bentuk fisik bangunan kampus, gaji dosen, beaya riset dan penelitian, beasiswa, dan lain sebagainya. Artinya mahasiswa memiliki tanggung jawab sosial selain tanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Ia dituntut kontribusinya untuk mendorong terciptanya kehidupan berbangsa dan bernegara agar lebih baik, minimal dari sekitar dirinya.

Aneh sekali ada mahasiswa setelah lulus dia kesulitan membangun komunitas. Yang lebih memprihatinkan lagi ketika mahasiswa yang lulus tetapi tidak menyadari bahwa ia selain harus bertanggugn jawab terhadap dirinya sendiri juga ada tanggung jawab sosial di pundaknya.

 

Kepedulian sosial

Ini bagian dari tanggung jawab sosial namun pada level yang lebih tinggi. Kalau tanggung jawab sosial itu sifatnya wajib dan masih ada sifat normatifnya. Sedangkan kepedulian adalah kerelaan untuk berpikir, bekerja, berbuat dan melakukan sesuatu yang secara normatif itu bukan kewajibannya. Peduli levelnya sedikit lebih tinggi dari sekedar menjalankan kewajiban sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Orang bisa dituntut karena lalai menjalankan kewajibannya, namun sulit dituntut karena kepeduliannya.

Kadang orang sering kehilangan kepedulian dengan dalih sibuk, bukan urusannya, tidak mau ikut-ikutan, bukan ranahnya dan lain sebagainya. Contohnya adalah, ketika bangsa ini tersandera pungli dan korupsi, kadang orang cenderung tidak peduli, cuek dan pura-pura tidak dengar dan tidak tahu. Ketika mengetahui atasannya meminta uang setelah dana sertifikasi turun, yang ada adalah cenderung diam dan mengiyakan. Mereka kadang kompak bukan untuk mengungkap tetapi kompak untuk diam.

Kepedulian sosial seseorang tengah diuji disini. Ada yang mencari selamat dengan membayarkan pungutan yang diminta. Ada yang menghibur diri dan mengatakan itu sebagai uang syukuran. Sementara kadang tetangganya yang lebih membutuhkan uang tersebut juga banyak. Atau uang tersebut bisa dikumpulkan dan dijadikan modal usaha bersama kalau misalkan itu disebut sebagai uang syukuran.

 

Kepekaan sosial

Kalau kepedulian ibaratnya berurusan dengan hal-hal yang sebenarnya tersaji di depan mata dan sangat mudah dikenali persoalannya. Sedangkan kepekaan ini agak menuntut sedikit kecerdasan lebih. Karena persoalan yang ada kadang sedikit tertutup hal yang dianggap wajar, sehingga seakan-akan masalah tersebut tidak ada. Nalar kritis berbicara di sini. Orang akan semakin peka ketika nalar kritisnya semakin tinggi.

Kepekaan misalnya, setelah sholat idul fitri, di lapangan biasanya akan ada tumpukan sampah. sebagian besar orang menganggap itu bukan masalah karena orang menganggap sampah berserak setelah keramaian adalah hal yang wajar. Tetapi orang yang sedikit cerdas akan berpikir mengapa hal itu bisa terjadi, bukankah orang sebenarnya bisa menjaga lapangan tetap bersih sebagaimana sebelum ada keramaian?A pendidikan selama di SD, SMP, SMU dan perguruan tinggi gagal dalam mendidik masyarakat bahkan hanya urusan sampah?

 

Kerelaan untuk berkorban

Ini tingkatan yang cukup tinggi dari kewajiban dari seorang mahasiswa ataupun alumninya. rela berkorban adalah pilihan dan tentu beda jika disandingkan dengan menyerah sebagai korban. rakyat indonesia sudah berkorban, membayar pajak untuk kumpulkan APBN dan 20 % nya untuk pendidikan. sudah saatnya mahasiswa sadar bahwa ada pengorbanan yang telah diterima dari rakyat indonesia sehingga dirinya bisa menjadi pintar. apalagi jika mahasiswa ini kuliah karena beasiswa, baik di dalam maupun ke luar negeri.

Pengorbanan itu definisinya yang paling mudah adalah melakukan sesuatu dengan mengeluarkan beaya, waktu, tenaga, pikiran, dan itu bukan semata-mata untuk dirinya karena tidak mengharapkan keuntungan dari yang ia lakukan. Mungkin bisa dibedakan antara berkorban dan berinvestasi. Pahlawan bahkan rela mengorbankan harta, masa depan dan bahkan nyawanya agar bangsa ini bisa merdeka. Ia tentu tidak mendapat apa-apa karena telah mati.

Kendalanya adalah oportunisme mahasiswa makin hari makin tinggi, sehingga pengorbanan kadang dianggap tindakan bodoh, karena tidak mendatangkan keuntungan. Mahasiswa butuh keberanian untuk mengorbankan jadwal kuliah untuk mengikuti kajian dan riset. Mahasiswa butuh keberanian untuk memilih ketika harus turun jalan menentang keserakahan penguasa dan mengorbankan jadwal kuliahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: