Membangun Aksi Gerakan Mahasiswa

Saat mengaca pada seni teater, aksi gerakan mahasiswa ibaratnya aksi sebuah lakon di panggung. Sehubungan dengan hal tersebut maka perlu beberapa hal yang harus disiapkan mahasiswa untuk membangun aksi dari gerakan mahasiswa itu sendiri sebagaimana dimandatkan dalam statuta lembaga dimana mahasiswa tersebut bernaung. Penyiapan ini penting agar gerakan dan aksi yang dilakukan efektif, tepat pada sasaran, efisien, dan tidak mengganggu tugas mahasiswa untuk menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Syukur-syukur bisa lulus cumlaude.

Dalam teater ada beberapa hal yang perlu disiapkan oleh aktor dan artis untuk membangun sebuah pementasan. Diantaranya adalah konsentrasi, membangun karakter, vokal, dialog, ekspresi,  mengatur gerakan, dan tentu saja kemampuan menempatkan diri di panggung, di tengah iringan musik, tata cahaya dan tidak kalah penting adalah bagaimana ia menempatkan diri diantara pemain panggung lainnya. Iringan musik, tata cahaya, artistik panggung akan memperkuat pesan yang disampaikan, akan tetapi kuncinya ada pada aktor dan artis itu sendiri.

Konsentrasi atau fokus adalah penting untuk dibangun dalam rangka membangun gerakan dan aksi mahasiswa. Fokus penting karena ada banyak hal yang mesti dikerjakan sementara ketersediaan waktu, tenaga, pikiran dan sumber daya manusia ada batasnya. Dengan kata lain fokus dibutuhan agar sesuatu yang tengah dikerjakan tidak terganggu dengan hal lain yang dipandang penting. Sehingga ketelitian menyusun perencanaan, pengaturan waktu, kedisiplinan atas jadwal, kerja keras, taat asas kemudian tidak bisa diabaikan. Kadang mahasiswa pengin melakukan dan meraih banyak hal, tetapi lupa membangun kedisiplinan, mengatur jadwal dan waktu, tenaga, pikiran, dan justru memberi ruang sebesar-besarnya atas jadwal dadakan, kemalasan, ragu, konflik, serta disibukkan dengan mencari pembenaran atas ketidak taatannya pada jadwal yang telah mereka susun sendiri.

Konsentrasi atau fokus membantu menajamkan arah, kekuatan gerakan, pencapaian target, menghemat penggunaan waktu dan tenaga, sehingga sebuah pekerjaan bisa diselesaikan oleh sedikit orang dan tidak memakan waktu lama. Andaikan tersedia banyak teman atau anggota maka mereka bisa mengerjakan pekerjaan atau kegiatan lain sehingga organisasi bisa memiliki lebih banyak capaian pekerjaan. Hindari list kepanitiaan yang hanya menampang nama. Hal ini akan menghemat waktu rapat, memperjelas person in charge. Sehingga terhindar dari “ada pekerjaan tidak ada orangnya atau ada orang tapi tidak ada pekerjaannya.”

Hal penting selanjutnya adalah perwatakan dan pembangunan karakter. Mahasiswa memiliki karakter pemberani, idealis, kritis, dan pemberontak. Mahasiswa anti kemapanan dan bebas berekspresi. Mahasiswa harus memiliki keberpihakan yang jelas yaitu kepada kaum tertindas dan terpinggirkan. Sebagai mahasiswa Indonesia mereka juga memiliki kewajiban penuh untuk berkontribusi atas terwujudnya cita-cita Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana diamanatkan dan UUD 1945. Kalau kemudian mahasiswa melewatkan proses pembentukan karakter ini hingga mereka lulus maka dipastikan mereka bukan mahasiswa yang memiliki karakter. Mereka tubuh tanpa wajah, yang gerakan dan aktifitasnya tak memiliki arah. Mereka tidak lebih dari gerbong kereta, yang akan bergantung kepada siapa yang menarik tubuhnya. Yang menguntungkan dan menjanjikan kehidupan akan diikuti sekalipun itu menyesatkan.

Mahasiswa berkarakter tahu siapa yang semestinya mereka bela, apa yang seharusnya mereka perjuangkan dan siapa yang seharusnya mereka lawan. Ia akan meluangkan waktu untuk meningkatkan kapasitas diri di luar jadwal kuliahnya, membangun strategi, meningkatkan keberanian, dan merumuskan arah perjuangannya baik sebagai individu ataupun sebagai bagian dari organisasi dimana ia bernaung. Ia tahu bahwa menghabiskan waktu dan tenaga untuk memenuhi target dari rencana individu dan organisasi adalah lebih penting daripada melibatkan diri dalam konflik yang sebenarnya ia dan organisasinya tidak menjadi bagian dari konflik itu.

Mahasiswa berkarakter bisa membawa diri di tengah gerakan dan aksi panggung sehingga ia tidak lemah dan hanyut dalam lakon panggung, namun ia juga tidak overacting. Mahasiswa berkarakter tidak canggung memerankan perannya sebagai mahasiswa, bukan mahasiswa yang kepingin memerankan pedagang, politisi, penguasa, atau pecundang karena karakter tersebut sudah ada yang memainkannya. Ia bisa menampilkan capaian dan prestasi tanpa perlu mengeluarkan pemain lain dari panggung atau mempermalukannya.

Vokal, dialog dan ekspresi

Vokal adalah upaya menyampaikan pesan melalui mulut. Sehingga dalam teater, vokal perlu dilatih, diasah dan diperkuat agar pemain memiliki kemampuan vokal yang baik. Dalam gerakan mahasiswa pesan yang disampaikan berupa gagasan, pernyataan sikap,penolakan, perlawanan, keberpihakan dan hal-hal lain sebagaimana dimandatkan organisasi dan dalam karakter mahasiswa sebagaimana disebutkan di atas. Filosofinya adalah bahwa aspirasi dan perjuangan itu perlu disuarakan kepada mereka yang dituju dan pihak lain yang terkait. Asumsinya bahwa pemain akan memainkan kemampuan vokalnya ketika di panggung, bukan ketika menggerutu dan mengumpat di belakang panggung.

Dalam kerangka ini mahasiswa perlu belajar menentukan pilihan cara agar ia menyampaikan dan memperjuangkan gagasan, aspirasi, perjuangan dan keberpihakannya dengan baik sehingga mudah dipahami pihak lain. Vocal yang baik adalah ketika pesan tersampaikan dan diterima tidak berbeda oleh penerima pesan. Gagasan, pemikiran, aspirasi, keberpihakan juga harus tersampaikan jelas, bahkan kepada mereka yang akan dibela, apalagi kepada pihak lain. Niat bak harus dikelola dengan baik, disampaikan dengan gamblang dan terang, dikerjakan dengan professional, sehingga bisa diterima dengan utuh dan baik. Tidak bias.

Dialog adalah kemampuan untuk mempertemukan dan membahas gagasan, pikiran dan lainnya terhadap pihak lain. Kemampuan membangun dialog adalah bagian dari perjuangan itu sendiri sebagaimana dialog adalah elemen penting dalam berteater. Dalam dialog ada waktu untuk berbicara dan waktu untuk diam mendengarkan. Kemampuan berbicara dan mendengarkan ini penting agar panggung bukan menjadi ajang lomba pidato, lomba monolog dan lomba stand up comedy. Dialog merupakan bagian dari strategi perjuangan agar semua pemain menjadi bagian dari missi perjuangan yaitu membangun pementasan gerakan mahasiswa. Agar panggung bukan menjadi ajang untuk meraih kepentingan pribadi. Agar panggung bukan menjadi sarana pembantaian kader berpotensi dan agar panggung bukan menjadi ajang pembenaran kaum eksistensialis yang haus kekuasaan dan gila kehormatan.

Dalam hal inilah kemudian peran struktur organisasi dan kepemimpinan menjadi penting sebagaimana sutradara berperan penting saat di panggung. Perlu ada pihak yang memiliki otoritas dan kewenangan untuk menyusun kebijakan, mengatur dan mendistribusikan segala potensi yang ada. Sehingga perjuangan bisa efektf dan tepat sasaran, bukan perjuangan yang menghancurkan dan bunuh diri. Siapa memiliki kewenangan apa dan harus melakukan apa adalah salah satu strategi yang perlu disusun dan menjadi komitmen dari seluruh pihak yang terlibat untuk mentaati dan disiplin atasnya. Dalam satu pementasan seluruh pemain harus tunduk dan patuh pada naskah yang sudah ditentukan dan diatur sutradara. Pemain dilarang memainkan peran dari naskah yang berbeda. Itu bukan ekspresi jiwa pemberontakan. Itu pelanggaran.

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: