Urun rembug soal pendidikan Indonesia

Indonesia hari ini adalah hasil dari system pendidikan pada era 70-90 an. Saat ini generasi 90 an mulai mengisi dunia kerja, dunia politik, dunia ekonomi dan sector-sektor lain yang ada. Sedangkan mereka yang lahir di era 70 an sudah berada di strata atas berbagai bidang tadi. Yang perlu di catat bahwa generasi tahun 90 an sudah mengenyam kemajuan teknologi komunikasi, internet dan informasi cepat serta sistematis lainnya dalam membangun pengetahuan dan logika berpikir. Ini agak berbeda dengan generasi 60-70 an yang masih di dominasi naskah, teks, buku, literatur di perpustakaan dan guru serta dosen.

Generasi 90 an sudah terbiasa dengan film documenter, paparan berupa slide show, dan lain sebagainya. Kadang generasi ini menggantikan buku dan naskah dengan melihat tayangan film di youtube. Ada pula yang menggantikan pertemuan di kelas dengan membaca materi sendiri di internet atau di WA sama teman di groupnya. Beberapa buku sekarang sudah tersedia dalam bentuk pdf sehingga mudah di share sebagian atau semua. Komunikasi tidak lagi terbatas ruang dan waktu. Ide bisa dituangkan kapan saja dan pihak lain juga tidak harus ketinggalan untuk merespon karena tertera di media social. Sekarang menyimpan karya, mendiskusikan tulisan dan gagasan, serta mencari referensi sangat mudah dan terbantu dengan teknologi internet.

Generasi 60-70 an sehari bisa membuat 3-4 agenda karena factor transportasi yang masih agak sulit bagi sebagian besar orang untuk berpindah tempat. Komunikasi masih belum maju seperti sekarang yang mana satu orang bisa menjalin 4-5 jalur komunikasi dalam waktu yang bersamaan via group medsos. Jaman dahulu hal seperti itu rasanya susah sekali dilakukan.  Keterbataran literature di perpustakaan sering terjadi sehingga buku dengan judul tertentu harus antre.  Di tahun itu yang ada plagiat, jauh lebih lambat dari generasi sekarang yang berubah menjadi istilah copy dan paste.

Apakah kemajuan saat ini kemudian berbanding lurus dengan capaian pendidikan dalam memenuhi kebutuhan umat manusia Indonesia? Kenyataannya tidak selalu seperti itu. Kemajuan teknologi komunikasi, ketersediaan informasi yang berlimpah, dan kemudahan-kemudahan lainnya tidak dengan sendirinya membawa bangsa ini kuat dan hebat di tengah bangsa-bangsa lain di dunia. Indonesia masih gagap menghadapi kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. Para pelaku pendidikan kalah cepat dengan anak-anak yang sehari-hari bisa mengakses ribuan informasi yang mereka inginkan. Anak-anak sudah terbiasa bergelut dengan puluhan aplikasi di gadget mereka, sementara gurunya kadang masih kerepotan ketika hendak bikin presentasi.

Terlepas dari itu semua ada beberapa hal yang perlu mendapatkan tekanan dalam dunia pendidikan Indonesia. Penekanan-penekanan ini penting untuk masuk dalam kurikulum pendidikan dan beberapa diantaranya bersifat mendesak. Hal-hal itu adalah sebagai berikut:

 

Bertanggung jawab dan lepas dari persoalan dirinya sendiri.

Apapun jurusan dan fakultasnya, setiap anak harusnya memliki kemampuan untuk bisa menyelesaikan persoalan dirinya sendiri. Kalau seperti maka dirinya adalah bagian dari masalah. Maka kurikulum pendidikan harus bisa meghindarkan persoalan seperti ini terjadi.

Adalah menjengkelkan ketika menemui sarjana kebingungan saat ia wisuda, hendak mengerjakan apa setelah ini. Saat dikampus mereka dikejar-kejar pihak kampus untuk segera merampungkan mata kuliah, dapat IP bagus dan tidak berkesempatan aktif mengembangkan dirinya di luar kelas. Kegiatan kemahasiswaan, ekstra kurikuler, dan organisasi-organisasi mahasiswa yang harusnya menempa mental, pribadi, emosi dan ketahanan tubuh terlewatkan.

Akibatnya mahasiswa hanya bersandar pada perkuliahan dan yang di dapatkan hanya indeks prestasi (IP). Ia menggantungkan hidup pada ketersediaan kesempatan kerja dan lupa untuk menyusun plan B, berdasar pada kemampuan nya sendiri. Sarjana seperti ini yang belum selesai dengan persoalan dirinya sendiri sehingga menambah daftar panjang pengangguran. Ujung-ujungnya sering menuntut Negara untuk mengangkat dia menjadi PNS.

Dampak lain dari persoalan ini adalah ia tidak bisa mengambil control penuh atas dirinya dan masa depannya karena jarang sekali terlatih untuk itu. Selama di kelas ia pasrahkan masa depan kuliahnya pada nilai dari dosen. Saat menyusun skripsi ia pasrahkan masa depan pemikiran dan gagasannya pada revisi dosen pembimbing tanpa diskusi mendalam, perdebatan serius dan tukar menukar gagasan yang progresif, akan tetapi yang penting skripsinya cepat selesai.

 

Kemampuan memilih dan berani mengambil resiko

Memilih itu hal mudah, tapi tidak semua orang berani melakukan. Maka definisinya kemudian memilih itu sulit. Memilih adalah keberanian untuk mengambil resiko itu sendiri. Dalam pendidikan peserta didik sering dihadapkan pada keterbatasan pilihan sehingga pengembangan kemampuan untuk memilih terganggu perkembangannya. Hal ini diperparah dengan tiadanya ruang untuk berpikir dan bersikap berbeda utamannya dengan guru atau dosennya. Kerap sekali mahasiswa tidak diberi pilihan lain sama sekali. Artinya kebenaran adalah apa yang dikatakan guru dan dosen.

Hal ini sangat mengganggu peserta didik mengembangkan kemungkinan-kemungkinan. Saat situasi berjalan diluar prediksi, saat kenyataan tidak sesuai ekspektasi, maka yang terjadi adalah frustasi. Kemudian dengan mudah menyerapahi keadaan dan kenyataan karena tidak sesuai dengan yang diharapkan. Nalar kreatif dan inovatifnya telah lama mati dan ditukarkan dengan nilai bagus dan IP. Akibatnya mereka terbelenggu ketika harus memilih dan mengambil resiko. Ia tidak sadar dirinya bergantung dan bahkan menjadi beban bagi pihak lain.

Pengembangan system pendidikan harus bisa menumbuhkan kemampuan untuk memilih dan mengambil resiko agar peserta didik dan warga belajar tahu bahwa hidup akan sukses saat ia memiliki kemampuan untuk memilih dan keberanian mengambil resiko. Bisa memilih dan berani mengambil resiko memiliki peluang keberhasilan 50%. Tidak bisa memilih dan berani mengambil resiko berarti tidak melakukan sesuatu dan peluang keberhasilannya dalam hidup 0%.

 

Mengembangkan Toleransi dan menghargai keberagaman

Kesadaran bahwa peserta didik dan warga belajar itu beragam adalah penting. Kemampuan untuk menghargai keberagaman dan saling menghormati perbedaan akan menjadi bekal peserta didik dalam menjalani kehidupannya baik di saat menempuh pendidikan ataupun di masyarakat. Keberagaman manusia meliputi banyak hal, seperti status social, logika berpikir, perbedaan keyakinan, bentuk tubuh, jenis kelamin, warna kulit, ras, latar belakang budaya, dan lain sebagainya. Wujud dari kesadaran ini adalah tidak merasa lebih tinggi dari yang lain dan tidak merasa rendah diri terhadap yang lain. Merasa lebih tinggi akan melahirkan arogansi, kesombongan, penindasan, penghinaan, dan penistaan. Merasa rendah diri akan menyebabkan rasa minder, terganggu, dan menutup diri.

Sedangkan toleransi adalah kemampuan untuk membiasakan diri nyaman dan menghormati dengan segala perbedaan di sekeliling mereka baik dalam berpikir, berkeyakinan, berorientasi hidup, dan lain sebagainya. Toleransi akan menyikapi setiap perbedaan sebagai rahmat dan anugrah karena berarti semakin menambah kekayaan budaya, keragaman berpikir, dan bisa lebih memahami serta saling melengkapi.

Kemampuan dan ketrampilan untuk toleran dan saling menghormati keberagaman ini ampuh menekan konflik dan perpecahan di tingkat masyarakat dan bangsa. Mereka tidak mudah terpecah oleh setiap perbedaan, sikap politik, pilihan yang berbeda dan tidak mudah dihasut serta ditungganggi kepentingan tertentu. Karena bagi mereka perbedaan adalah rahmat dan anugrah sehingga tidak perlu diributkan apalagi sampai menyulut konflik. Masyarakat yang memiliki kemampuan untuk toleran dan menghormati keberagaman, memahami bahwa berkonflik apalagi sampai timbul perpecahan dan pertentangan adalah kerugian besar baik bagi dirinya sendiri ataupun bagi komunitasnya, bagi masyarakatnya, juga bagi bangsanya.

System pendidikan Indonesia harus terus memupuk dan menumbuh kembangkan kemampuan untuk toleran dan menghormati keberagaman ini. Kemampuan, ketrampilan, kebiasaan dan habit perlu dibiasakan, dibangun dan dijadikan gerakan bersama. Bahwa toleran dan saling menghargai adalah menguntungkan. Kemampuan itu harus dijaga karena merupakan asset pribadi, asset masyarakat dan asset bangsa untuk menjalani kehidupan.

 

Berintegritas, peduli pada keadilan dan tidak korupsi

Orang berintegritas diantaranya adalah mereka yang menjunjung tinggi dan menaruh penghargaan  atas mutu, kualitas, potensi, kemampuan dan profesionalitas. Mereka juga menjunjung tinggi moralitas dan ketegasan dalam menentukan sikap ketika menghadapi sesuatu. Moralitas, keadilan dan keberpihakan menjadi landasan mereka dalam mengambil keputusan, bukan karena factor keuntungan, jabatan dan finansial belaka.

Pendidikan Indonesia penting untuk melahirkan generasi generasi yang memiliki integritas, memiliki kepedulian atas kehidupan masyarakat di sekitarnya, tegas dan jelas dalam keberpihakannya pada kaum miskin dan terpinggirkan, serta menjunjung tinggi keadilan. Aspek moralitas perlu ditanamkan seperti kejujuran, tidak korupsi, tidak menyalah gunakan kewenangan dan jabatan serta transparan dalam melaporkan hasil kerjanya. Saat menjabat sebagai pejabat public ia siap dan rela di kontrol oleh konstituennya. Ketika menjadi rakyat biasa ia peduli, berani dan rela untuk mengontrol pejabat dan wakilnya.

Pendidikan Indonesia gagal ketika peserta didik dan lulusanya adalah mereka yang meninggalkan persoalan masyarakat, bangsa dan negara dan menganggap hal itu tidak ada kaitan dengan diri dan kehidupanya. Pendidikan Indonesia dalam masalah besar ketika para peserta didik dan lulusannya tidak punya calon-calon pemimpin yang memiliki integritas, tidak punya wakil rakyat yang aspiratif dan peka akan kepentingan dan aspirasi rakyat yang diwakilinya. Pendidikan Indonesia kelam ketika warga belajar dan lulusannya santai dan diam ketika para penegak hukumnya menjadi pesakitan, politisinya busuk dan ramai-ramai saling menghujat. Pendidikan Indonesia akan di laknat ketika peserta didik dan lulusannya tidur nyenyak saat para pejabatnya korupsi, padahal jutaan warga miskin masih merana dan tertindas di sana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: