Hoax dalam perspektif kebebasan berpendapat

Hoax adalah Sesuatu yang dimaksudkan untuk menipu; tipu daya yang disengaja dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan. Penipuan untuk ejekan atau kerusakan; sebuah trik yang menipu atau cerita; lelucon praktis. (artikata.com) . dalam pengertian lain hox adalah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu. (id.wikipedia.org)

Berpendapat atau hak untuk berpendapat diatur dan dilindungi oleh undang-undang dasar. Yaitu di pasal 28 E ayat 3 yang berbunyi : Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat. Artinya bahwa pada dasarnya semua warga Negara memiliki hak untuk berpendapat baik lisan, tertulis ataupun melalui media lainnya.

Sebenarnya hoax telah memiliki sejarah panjang, mungkin istilah nya saja yang berkembang. Bisa disebut berita bohong, bisa disebut hasut, bisa disebut tipu-tipu, bisa disebut fitnah, dan sebagainya. Istilahnya bisa berubah-ubah bahkan kadang sengaja disamarkan untuk mengelabui audien dan sasaran hoaknya.  Akan tetapi hakekatnya adalah mengambil keuntungan dari khalayak dengan cara menyampaikan sesuatu yang tidak benar, dipelintir, disembunyikan sebagaian, dikaburkan dan lain sebagainya.

Ibarat sebuah tanaman hoax akan tumbuh cepat saat mendapatkan media tumbuh yang subur, tidak tandus. Ibarat wabah, hoax bisa menular dan cepat menyebar melalui medium-medium yang telah dipetakan oleh pembuat hoax. Ibarat air hoax akan mengalir ke celah-celah dimana ia bisa masuki tanpa peduli siapa dan kapan hal itu dilakukan dan melalui medium apapun. Ibarat jasa angkutan ,hoax bisa mewadahi konten apa saja  yang penting sesuai dengan pemesan hoax dan relevan dengan target yang hendak dituju. Ibarat media hoax bisa dikonsep seperti apa saja yang relevan dengan memenangkan permainan.

 

Peran hoax

Hoax bukan sesuatu yang muncul sendiri. Ia ada, tumbuh, berkembang, karena ada yang menginginkan ada dan kebanyakan hoax hadir karena disengaja. Hoax biasanya terkonsep rapi mulai dari isinya, sasarannya, hingga target yang hendak didapatkan. Kadang ada juga pembonceng gelap yang turut mengambil manfaat dari hoax yang telah tumbuh berkembang di masyarakat dan itu tidak bisa dihindarkan. Hoax kemudian berkembang menjadi alat konsolidasi massa, mempengaruhi bahkan hingga mencuci otak khalayak hingga terjadi kebencian massal, pergolakan massal, ada konflik massal, ada pertempuran dan lain sebagainya.  Ada agenda politik yang kadang melatar belakangi muncul nya sebuah atau lebih hoax.

Bagaimana tidak, hoax bisa mengorganisir ribuan orang dalam waktu cepat, bersamaan dan murah. Penyebar hoax juga sulit dibalas karena kadang bersembunyi dalam belantara internet. Kadang tidak perlu repot membuat karena saat ini bahan dan konsep juga banya tersedia diinternet. Jaman dahulu pun sebelum ada internet hoax juga digunakan untuk agenda-agenda politik dan perebutan kekuasaan. Medianya yang berbeda. Tetapi substansi tidak berubah banyak.

Materi hoax

Materi hoax bisa apa saja tergantung peta sosiologis khalayak yang hendak disasar sesuai dengan target politik yang hendak dicapai. Materi hoax biasanya berkisar sara karena sara memang sesuatu yang mudah disulut dalam waktu cepat dan memiliki daya  hidup panjang di masyarakat.  Sara rentan disulut karena berkaitan dengan jati diri, eksistensi, martabat, keyakinan, sentiment, prmordialisme dan lain sebagainya. Materi lain yang mudah disulut adalah materi kekerasan, kecelakaan, perang, seksualitas, dan lain sebagainya. Bentuknya bisa foto, narasi, copian posting dari group sebelah, video, poster, comot foto lama, edit video, cropping, dan lain sebagainya.

Strategi dan taktik

Orang di balik sebuah atau lebih hoax biasanya memiliki agenda politik jelas dan jelas-jelas berbeda dengan khalayak yang akan menjadi sasarannya. Dalam hal ini mereka mengesampingkan kebenaran, keyakinan, perasaan, kejujuran, ketulusan, keikhlasan, kebersamaam, dan justru memanfaatkan hal-hal tersebut sebagai sasarannya.

Mengapa orang indonesia mudah terkena flu? (baca:hoax)

  1. kurang berpikir kritis

jarang membaca, jarang mengasah ketajaman analis, jarang update menjadi salah satu penyebab orang mudah terkena flu, eh hoax.  Saat disekolah waktu banyak dihabiskan menghafal materi, menghafal apa maunya dosen, menghafal segala hal yang tertera di buku agar kelak bisa mengerjakan test dan mendapat nilai bagus. Warga belajar kehilangan banyak waktu untuk menganalisis, merenungkan kembali, merefleksi, dan lain sebagainya. Kita dibiasakan menerima mentah-mentah apa yang termaktb dalam buku. Jika melakukan kritik, mempertanyakan sesuatu rawan di katakan pembangkang, melawan dan sebagainya. Hari-hari disekolah dijalani budaya menerima begitu saja terhadap apa yang diajarkan dan itu terbawa pada kehidupan pasca sekolah.

Hari ini sikap kritis sungguh diperlukan kalau tak mau terjangkit dan menjadi korban hoax. Periksa vaiditas sumber, teguhkan pikiran untuk tidak gampang like dan share postingan orang, dn seterusnya.

  1. malas kroscek

saat membaca sebuah tulisan, melihat foto atau video, ada baiknya untuk melhat dulu sumberbya dari mana, melihat waktu dan lainnya untuk memastikan validitas informasi yang termuat di sana. Jangan sampai kita baru membaca atau melihat sebagian kemudian buru-buru like, share dan kasih quote. Godan semakin nyata bila ternyata yang ngelike sudah banyak, yang ngeshare sudah banyak, yang komentar sudah berates-ratus. Perilaku seperti ini artinya masih ada rasa malas untuk melakukan kroscek. Jika kemudian posting tersebut kemudian kebohongan dan penghasutan misalnya, berarti sudah turut menyebarkan kebohongan.

  1. Sara

Kasus pilkda DKI kemarin sudah cukup memberikan contoh betapa hoax berisi video yang diedit bisa dimanfaatkan untuk menggerakkan sebegitu banyak orang dan menjadi alat mengubah peta kekuasaan Jakarta hari ini.  Orang begitu mudah dipengaruhi karena banyak orang agak enggan melakukan kritik terhadap inforsmasi terkait agama yang dianutnya. Semua informasi yang datang dianggap sebagai kebenaran.  Sekali lagi penting banget untuk cek, kroscek, klu perlu bahkan multipelcek.

  1. banyak yang like dan share

jika seseorang memiliki perilaku seperti ini di media social maka perlu melakukan refleksi dan evaluasi diri. Sudah berapa kali terpengaruh oleh sebuah posting kemudian menyebar luaskan postingan tersebut karena banyak yang memberikan like dan banyak yang share.  Anda boleh menshare sebuah posting, tetapi perlu dipastikan dahulu validitas informasi itu. Kadang para pemakai media social tidak sadar telah terjebak dalam jaringan penyebar berita hoax dengan perilaku ini. Sekali lagi bersikap kritis dan meningkatkan kualitas perilaku dan akhlaq berinternet adalah hal yang diperlukan.

Kebebasan berpendapat

Berpendapat diatur dan dilindungi UUD 1945 sebagaimana sudah disinggung di awal makalah ini. Persoalannya adalah ruang kebebasan ini kadang disalah gunakan untuk tujuan-tujuan yang tidak sejalan dengan cita-cita bangsa Indonesia saat menyatakan kemerdekaannya. Demokratisasi kemudian dijadikan media untuk meraih ambisi kekuasaan, membela kepentingan pemodal, digunakan untuk konspirasi politik dan lain sebagainya. Hal ini menjauhkan tujuan mulia demokrasi sebagai perwujudan kedaulatan rakyat.

Bangsa ini perlu membangun nalar kritis agar tidak mudah caper, tidak mudah baper, mengedepankan rasionalitas daripada emosionalitas. Mengedepankan analisis dan tidak mengedepankan kriminalisasi. Berbagai gagasan, pandangan, wawasan, masukan, sikap, keyakinan, pilihan, penerimaan, penolakan, dan seterusnya adalah aspek-aspek yang ada dalam kehidupan. Perlu pembelajaran terus menerus untuk mengelola dan menjadikannya sebagai potensi.

Hoax kemudian menjadi relevan akhir-akhir ini karena dipandang bisa menjadi ancaman bagi kebhinekaan bangsa, mengancam persatuan Indonesia, dan berpotensi memecah belah. Beberapa peristiwa akhir-akhir ini mengindikasikan hal tersebut. Sehingga muncul pertanyaan, dan bahkan kekhawatiran, seberapa kritiskah bangsa ini dalam menjalani kehidupan virtualnya yang sudah tidak bisa dihindarkan lagi?

Pada mulanya kebebasan berpendapat tidak terpengaruh ada dan tidaknya hoax. Namun dikhawatirkan dengan adanya hoax yang marak maka akan mempengaruhi kebijakan pemerintah terkait demokratisasi yang tengah tumbuh di negeri tercinta ini. Ada PR besar bagi bangsa ini di sana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: