Mengembangkan Ideologi dalam Teater

Sesungguhnya tidak ada manusia yang tidak punya ideologi, karena ideologi adalah pemikiran mendasar dan patokan asasi tingkah laku manusia. Hanya yang perlu dikenali adalah ideologi apa yang dianut seseorang dan bagaimana ideologi itu merasuki segenap pemikiran dan perbuatannya. Ideologi kadang bisa begitu menghegemoni sedemikian kuatnya pada individu bahkan sebuah bangsa. Istilah hegemoni mengemuka karena tidak sedikit para penganut suatu ideologi yang tidak berproses dan berlandaskan kesadaran. Ideologi tiba-tiba telah terdeteksi akut dalam pemikiran dan perilaku. Merek bajunya sama tapi ideologinya bertentangan. Agama dan jenis kelaminnya sama tapi ideologinya terlibat peperangan. dan seterusnya.

Pada bagian lain ideologi baru disadari keberadaannya setelah penganutnya akut dan stadium empat yang dalam banyak kasus korban justru menyangkalnya. Misal seseorang penganut ideologi hedonisme akut tetapi marah ketika ditunjukkan bahwa dirinya penyembah hedonisme. Pemikiran dan tingkah lakunya yang hedonis tidak mampu menunjukkan mata nya dan membuka kesadaran dirinya bahwa dirinya penganut ideologi hedonisme. Maka ideology yang di maksudkan dalam perbincangan ini adalah ideology yang memiliki keberpihakan kepada kaum lemah dan tertindas, menjunjung tinggi nilai keadilan, kemanusiaan, dan menolak eksplotitasi atas nama apapun.

Hal serupa terjadi dalam dunia teater. Teater ketika membangun makna dan dikemas sebagai pesan dalam sebuah pementasan merupakan pengejawantahan dari sebuah ideologi. Teater bukan sekadar media bagi para kreatornya untuk berkutat dengan persoalan teknis dan artistic, melainkan juga subjek yang terobsesi pada gerakan kebudayaan.

Kepentingan semata-mata untuk seni bagi kreator teater ‘ideologis’ sering dianggap jebakan karena seni menjadi wilayah asing bagi komunikasi publik. Simbol verbal, visual dan auditif teater pun menjadi terlalu rumit dan gelap. Tapi tidak sedikit seniman yang menganggap kerumitan pola ungkap/ucap sebagai ukuran tingginya kualitas seni. Memang tidak bias dinafikan juga bahwa ada aliran seni yang berorientasi pada seni itu sendiri.

Bagi kreator teater ‘ideologis’, pencapaian estetik tidak semata-mata demi kepentingan seni, melainkan untuk mewujudkan cita-cita ideal kebudayaan. Teater pun menjadi wahana melakukan gerakan kebudayaan untuk membongkar berbagai arus besar gagasan, pemahaman dan nilai suatu kebudayaan mapan. Kreator teater ‘ideologis’ juga membaca, menafsirkan dan melakukan transformasi kebudayaan yang mapan menjadi gagasan, pemahaman dan nilai yang berbeda dan segar.

Ini artinya, mereka melakukan subversi kreatif atas versi-versi besar kebudayaan yang dianggap stagnan sebagai respons atas kondisi di sebuah negeri di mana tirani mencengkeram, rezim yang menginjak-injak jutaan rakyat tanpa belas kasih. Begitu kira-kira ungkapan para seniman di jaman orde baru mengungkapkan peristilahannya yang bisa kita pinjam.

Ideology teater kadang juga bisa di bawa ke ranah yang lebih spesifik. Soal ideology kesetaraan relasi laki-laki dan perempuan misalnya. Selain menjadi materi pementasan juga masuk ke ranah yang lebih detail lagi: jeroan pementasan. Hal ini sebagaimana di tuturkan Mudji Sutrisno yang mengutip sebuah kisah seorang perempuan nun jauh di sana berikut ini:

Selayaknya terbangun hubungan yang ekual antara laki-laki dan peremuan dalam setiap aspek kehidupan termasuk dalam berkesenian, khususnya teater. kebudayaan manusia hendaknya dijiwai hubungan manusiawi. itulah yang diperjuankan perempuan dalam gerakan penyadarannya termasuk dalam lingkup teater. dahulu teater masih didominasi unsur laki-laki, berbahas seni dengan persepsi estetik patriarkal. memang tidak bisa disalahkan situasi seni yng seperti ini karena secara praktis, membangun kreativitas dalam teater identik dengan karya seni yang berkembang. seni merupakan wujud dari ekspresi kultural tertentu yang notabene masih dikuasai budaya patriarkal. dahulu panggung teater didomonasi laki-laki mulai dari sutradara, pemain, penulis naskah, stage manager, hingga penata artistik. fenomena ini yang menyebabkan perempuan senantiasa dijadikan obyek seks sehingga dianggap lemah. di barat dimana teater sudah berkembang sejak tiga abad lalu, baru belakangan ini diwarnai nuansa estetik perempuan. (Mudji Sutrisno, Teori-Teori Kebudayaan; 2005, hlm. 317)

Teater membutuhkan ideologi: horizon gagasan atau orientasi nilai penciptaan karya. Ideologi teater terkait beberapa hal. Pertama, motif penciptaan karya (untuk apa dan untuk siapa karya diciptakan). Kedua, metodologi (bagaimana karya itu diciptakan). Ketiga, fungsi karya dalam konstelasi sosial-budaya. Keempat, cita-cita apa yang akan diraih atau dunia ideal macam apa yang hendak diwujudkan.

Ideologi teater memahami pementasan teater bukan sekedar sebuah ‘ritual’ para ‘tukang’ teater atas nama proyek tertentu, melainkan pencapaian ‘ideal’ kesenian melalui eksplorasi estetik, sosial dan kultural yang dilakukan para pegiatnya. Mereka melakukan studi atau riset sosial dan pustaka untuk memahami/menguasai persoalan (konten, tema, pesan), sebelum akhirnya memasuki dunia pengolahan simbol (kisah, tokoh, alur, suasana, peristiwa dramatik) dan melahirkan entitas pementasan teater yang memiliki ukuran ‘tiga tinggi’ yakni tinggi ideologi, tinggi estetika dan tinggi dalam komunikasi. (Indra Tranggono: Teater dan ideologi). Ideologi teater membangun keberpihakan kepada nurani, nalar kritis, peka, peduli dan mau mengambil tanggung jawab.

Lebih jauh lagi teater sebagai pandangan hidup (ideologi) maknanya lebih filosofis. Teater mengejawantah ke dalam laku keseharian. Misalnya menjadi pribadi yang selalu menjaga keindahan berpikir, keindahan nilai, costumary, dan instalasi kehidupannya. Seseorang bisa saja bukan seorang yang memproduksi teater secara praktis dan profesional, tetapi tampilan setiap aspek kehidupannya mencerminkan keindahan dan apresiasi penuh terhadap prinsip-prinsip artistik yang dianut dalam disiplin kreatif teater. Sehingga pada puncak pencapaiannya, produksi nilai, pandangan hidup, bahkan spiritualitas manusia yang menikmati tergerakkan secara sadar menuju kehidupan yang harmoni.

Teater sebagai gerakan dipergunakan untuk merebut kekuasaan (dalam pengertain yang lebih luas). Pada konteks ini, ada sejumlah peperangan konsep dan ideologi yang akan dilalui seorang teaterawan. Ada estetika yang ingin dimenangkan. Distrik penting dalam ruang-ruang media informasi mesti direbut dan diwarnai dengan kecenderungan dan corak estetika yang ingin ditawarkan.

Gerakan ini akan berhasil apabila seseorang atau sekelompok telah memerdekakan diri mereka dari kusut-masai wacana di tengah paradoks penafsiran. Artinya teater bukan sebagai ilmu dan gerakan semata, melainkan menjadi sebuah kesadaran spiritualitas tentang kompleksitas kehidupan yang bagaikan permainan tanda dan senda gurau belaka. (Zelfeni Wimra: Menimbang masa depan ideologi teater kampus di sumatera barat)

Akhirnya mengembangkan ideology dalam teater bisa di tempuh dalam aspek: pertama, penguasaan persoalan terkait tema, konten, pesan yang berkaitan dengan realitas, kritik sosial, menyuarakan aspirasi kaum miskin dan pinggiran serta tertindas. Kedua, pengolahan simbol yaitu penuturan kisah, pembangunan tokoh, pemilihn alur, pembangunan suasana, dan membangun klimk drama yang efektif dan tidak salah fokus. Ketiga, membangun pementasan yang berisi secara ideologis, secara estetis dan pesan yang dimuat benar-benar sampai kepada penonton. / jb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: